Protes Kebiasaan Selfie, Wanita Ini Berpura-Pura Mati

76

Selfie, adalah sebuah kata yang sudah begitu familiar di kalangan masyarakat sejak beberapa waktu yang lalu. Hanya dalam hitungan waktu yang begitu singkat, wabah ini sudah masuk, menembus dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain yang tersebar di dunia.

Biar kata banyak orang yang mulai mengatakan bahwa selfie bukan zamannya lagi sekarang ini dan telah digantikan dengan zamannya nge-vlog, namun tetap tidak bisa dipungkiri bahwa demam selfie masih saja menyerang masyarakat dunia, khususnya di kalangan anak muda.

Tahukah anda kalau ternyata mereka yang sangat hobi berselfie ria di smartphone ini menjadi salah satu bukti atau tanda dari keegoisan masyarakat itu sendiri? Banyak orang yang mungkin tidak menyadari hal tersebut. Tapi yang pasti, inilah kenyataannya. Orang-orang egois sudah menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat anda saat ini. Dan bisa jadi anda adalah bagian dari mereka.

Setelah berselfie, biasanya seseorang akan mulai memilih dan memilah beberapa foto yang menurutnya layak atau lulus untuk di upload ke akun media sosial miliknya.

Beberapa foto bahkan terlebih dahulu melalui proses pengeditan sebelum akhirnya diupload. Tindakan mengedit foto ini dilakukan untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwasannya orang tersebut memiliki penampilan yang “Wow”, dengan maksud untuk mendapatkan pujian.

Inilah yang kerap menimbulkan rasa kecanduan meng-upload foto pada seseorang. Kalau sudah sampai pada tahap yang berlebihan seperti kecanduan ini, anda pasti tahu kan bahwa resiko terjadinya hal-hal buruk juga akan semakin besar.

Dimana pun mereka sedang berada, kemanapun tempat yang mereka tuju atau kunjungi dan apapun yang tengah mereka lakukan, orang-orang akan selalu mengabadikannya dengan cara memotret atau mengambil foto selfie.

Mulai dari berselfie di atas puncak gedung pencakar langit hingga di tempat yang lebih ekstrim seperti di dalam kamar mandi. Mereka tak peduli apapun, bahkan cenderung menghiraukan bahaya yang ada di depan mereka, hanya untuk mendapatkan kepuasan berselfie.

Dan bahkan, beberapa gadget sudah dilengkapi dengan berbagai aksesoris pendukung yang memang sengaja dirancang untuk bisa membantu orang-orang berselfie dengan lebih leluasa.

Seorang seniman melihat adanya keganjalan perilaku yang disebabkan dari perilaku atau kebiasaan berselfie ini. Dia adalah orang yang menentang kegilaan selfie yang kerap dilakukan oleh masyarakat. Dan dia melakukannya dengan cara yang sangat unik.

Selfdies, Pertentangan Terhadap Tindakan Selfie

Sebelum masuk dan membahas terlalu dalam, izinkan saya bertanya apakah anda pernah mendengar istilah selfdies ini sebelumnya? Istilah ini mulai dikenal masyarakat sejak seorang seniman bernama Stephani Leigh Rose mulai meng-upload sejumlah foto dirinya di media sosial. Sama seperti orang-orang pada umumnya, wanita ini juga sangat menyukai travelling tapi bedanya dia tidak begitu suka berselfie.

Ada banyak sekali foto-foto yang telah berhasil diabadikannya dari perjalanan yang ia lakukan. Alih-alih selfie dengan gaya yang anggun, cantik ataupun centil, Stephani malah memilih untuk melakukan hal tak terduga “plus” aneh yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh orang lain. Tentu saja hal ini masih ada kaitannya dengan kebiasaan masyarakat yang suka atau senang berselfie.

Selfie dengan cara unik yang semacam apakah kira-kira yang dilakukan oleh wanita ini? Gimana? Mulai penasaran kan guys? Tapi sabar sebentar ya guys. Kita bahas sedikit dulu mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan selfdies ini.

Mengenal Apa Itu Selfdies

Anda pasti bertanya-tanya kan apa sebenarnya yang dimaksud dengan selfdies ini? Tidak hanya jarang terdengar, istilah kata yang satu ini memang baru muncul akhir-akhir ini saja.

Stephanie yang merupakan penggagas istilah unik ini menggambarkannya sebagai kata yang menunjukkan sebuah tindakan “anti-selfies“. Tindakan penolakan terhadap kegiatan selfie ini ditunjukkannya dengan cara yang lebih spesifik, yaitu dengan cara berpura-pura mati di beberapa tempat yang ia kunjungi.

Kebanyakan sih tempat yang dikunjunginya tersebut adalah sejumlah tempat wisata yang populer dan sangat sering dikunjungi oleh masyarakat. Tidak hanya bertingkah seolah-olah sudah mati, dia juga mengabadikannya ke dalam sebuah foto, agar orang lain bisa melihat tindakan unik dan tidak biasa yang dilakukannya itu.

Dia biasanya hanya akan mengambil pose yang sederhana saja, seperti misalnya berpose seperti sedang terjatuh ke tanah, menghadap ke bawah atau dengan keadaan tubuh telungkup, kemudian dia akan berpura-pura seperti sudah meninggal untuk beberapa saat, sembari seseorang mengambil fotonya.

Dia menceritakan kebiasaannya yang tidak biasa tersebut di dalam akun Instagram miliknya. Di sana anda bisa melihat bagaimana ia memainkan permainan berpura-pura mati, yang dilakukannya di berbagai tempat, mulai dari Eiffel Tour dan Louvre Museum, yang ada di Paris, kemudian Golden State Bridge, yang berada di San Francisco, seperti ini nih contohnya:

Foto yang memperlihatkan kelakuan unik dari Stephanie ini menggambarkan tentang kematian, yang digabungkan dengan fungsi fotografi dan imajinasi. Pengambilan foto-foto tersebut tidaklah direncanakan atau melalui persiapan apapun. Apalagi di edit-edit seperti kebanyakan yang dilakukan orang-orang.

Jepretan demi jepretan yang diuploadnya tersebut memang ditangkap atau diambil begitu saja pada timing atau moment itu juga. Tidak ada peralatan khusus, pencahayaan, ataupun pendukung-pendukung lainnya yang biasa dibawa dan digunakan oleh kebanyakan orang saat sedang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berselfie ria.

Menurut pengakuannya, wanita ini menjalani hari-harinya sama seperti masyarakat normal umumnya. Jika kebetulan ada momen atau tempat yang menurutnya sangat pas untuk melakukan selfdies, maka dia akan melakukannya. Kemudian dia akan mengambil foto dan memasukkannya ke dalam album instagram yang dikenal dengan nama “Stefdies”.

Baginya, itu lah keindahan dari rangkaian foto, dimana setiap foto memiliki titik keindahannya sendiri. Tidak kurang dan tidak lebih. Dia meyakini bahwa inilah nilai keindahan dari seni fotografi yang sebenarnya.

Meskipun banyak yang menganggap tindakannya tersebut sangatlah konyol, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ide dan kreatifitas dari si Rose dalam mengemukakan pendapatnya ini patut diacungi jempol. Keseriusannya sangat terlihat dari gambar yang mempertunjukkan setiap pose-pose kematiannya yang dibuat atu diambil se-realistik mungkin.

Saat melakukan selfdies tersebut, Stephanie mengatakan bahwa dia telah melakukannya di beberapa tempat yang bahkan tak layak untuk dijadikan tempat berfoto dengan caranya yang unik.

Dia mengaku bahwa untuk mendapatkan foto yang diinginkannya, dia harus rela mencium baunya air kencing di toilet umum yang ada di San Francisco dan bertemu beberapa kali dengan kotoran anjing.

Berbaring di beberapa tempat yang kotor juga tak jarang membuat pakaiannya menjadi rusak. Tapi itupun tak pernah menjadi masalah yang besar yang harus menghentikannya untuk tidak melakukan selfdies, karena dia menganggap hal tersebut sebagai sebuah karya seni.

Diusir Saat Melakukan Selfdies

Saat melakukan selfdies, Stephanie juga pernah mengalami penolakan. Dia pernah diusir atau dikeluarkan dari katedral Notre Dame, yaitu salah satu gereja di Paris, karena telah melakukan permainan berpura-pura mati tersebut.

Dia juga pernah diminta untuk menghapus salah satu foto dirinya saat berada di Roma, karena dianggap mengambil gambar terlalu dekat dengan seorang politisi penting. Selain itu, dia juga pernah hampir diinjak-injak oleh sekelompok orang, karena berpose atau berselfie saat penyelenggaraan maraton.

Ada sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa seni itu membutuhkan pengorbanan dan Stephanie tampaknya adalah orang yang berani dan bersedia untuk menempatkan dirinya dalam posisi itu. Dia rela berada di dalam keadaan yang sangat tidak nyaman demi mendapatkan pesan anti-selfie-nya di luar sana.

Di dalam budaya saat ini banyak orang yang mulai melupakan makna dari kegiatan mengambil foto yang sebenarnya. Masyarakat mulai lupa dengan nilai dari foto itu sendiri. Orang-orang mulai menaruh perhatian atau terobsesi pada budaya virtual. Mereka lebih terfokus pada apa yang terlihat di foto daripada apa yang terlihat dengan mata kepala mereka sendiri.

Sadar atau tidak, penampakan yang anda lihat pada foto selfie yang biasa diupload oleh seseorang, sebenarnya menyimpan segudang kebohongan. Banyak editan yang dilakukan untuk membuat gambar menjadi tampak lebih menarik dan sempurna. Semuanya seakan-akan sudah diatur untuk membuat mereka yang melihatnya merasa terkagum-kagun dan merasa iri.

Layaknya sebuah pentas drama, masyarakat saat ini seumpama sedang berperan sebagai pemain didalamnya. Memainkan sebuah kebohongan hanya untuk mendapatkan pengakuan dan kepuasan sendiri.

Keadaan semacam inilah yang pada akhirnya mendorong stephanie untuk mengambil atau menampilkan foto dirinya secara nyata dengan penampakan orang sungguhan.

Menurut pengakuannya, saat ingin mengambil foto, dia tidak boleh terhubung langsung dengan kamera, melainkan menjadi objek dari kamera tersebut. Tahu kan maksudnya apa? Berarti, foto-foto yang diambilnya tersebut bukanlah sebuah foto selfie, dimana gambar yang dihasilkan diambil atau dijepret oleh objeknya sendiri.

Protes dirinya terhadap mereka-mereka yang suka mengambil foto selfie ini sepertinya pantas mendapatkan apresiasi. Yah, setidaknya untuk mengingatkan orang-orang bahwasannya tidak seharusnya semua momen diabadikan dengan foto selfie. Misalnya saat sedang berkumpul bersama dengan keluarga, beberapa foto bersama sepertinya sudah cukup untuk mengabadikan kebersamaan.

Anda tidak perlu sibuk jepret sana sini untuk mengambil foto selfie, sampai harus mengorbankan kebersamaan anda bersama keluarga. Ingat guys, terkadang ada beberapa hal yang hanya perlu diingat di dalam pikiran dan hati saja, daripada sibuk foto sana sini sampai anda lupa menikmati suasana yang ada pada saat itu.

Jadi setelah membaca artikel ini, semoga saja pikiran anda bisa lebih terbuka dan anda bisa lebih menghargai setiap saat-saat berharga dalam hidup anda. Jangan hanya karena gila berselfie, anda harus rela membawa diri anda dalam bahaya seperti banyaknya kasus-kasus yang sudah ada sebelumnya.