Jepang Adakan Kompetisi Merias Jenazah, Anda Berminat?

233

Pada bulan Agustus kemarin, bangsa Indonesia baru saja merayakan hari ulang tahun atau biasa dikenal dengan sebutan hari kemerdekaannya. Dan seperti yang anda semua ketahui, perayaan yang dirayakan setiap setahun sekali ini tidak akan lengkap tanpa adanya perlombaan.

Itu lah sebabnya mengapa di setiap daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, selalu mengisi hari spesial tersebut dengan beragam perlombaan, seperti: Lomba makan kerupuk, lari karung, panjat pinang dan lain sebagainya. Begitulah cara yang biasanya dilakukan oleh masyarakat dalam memeriahkan perayaan kemerdekaan negaranya tersebut.

Berbicara tentang perlombaan, ternyata bukan hanya negara Indonesia saja lho yang melakukan tradisi  seperti itu. Beberapa negara lainnya, termasuk yang berada di kawasan Asia juga kerap mengadakan berbagai perlombaan, yang juga dirayakan setiap tahun pada hari-hari tertentu.

Bukan hanya jenis perlombaan yang biasa, salah satu negara di Asia, yaitu negara Jepang baru-baru ini juga tengah mengadakan sebuah perlombaan atau yang lebih cocok disebut sebagai sebuah kompetisi yang sangat aneh. Tahu nggak kompetisi seperti apa yang sudah diadakan oleh negara yang sangat terkenal dengan beragam keunikan dan keanehannya ini? Ayo tebak.

Saat mendengar namanya, dijamin deh anda bakalan merinding dan ketakutan nggak karuan. Beneran lho. Kompetisi ini bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan saat anda memergoki “pacar anda yang sedang berselingkuh dengan sahabat anda sendiri“. hehe. Jangan sampai baper ya guys, perbandingan ini hanya untuk membuat anda menjadi lebih rileks dalam membaca dan menyerap informasi yang disajikan di dalam artikel ini. Gimana? Mulai penasaran kan pasti?

Kompetisi unik, aneh dan menakutkan yang diadakan di Jepang tersebut adalah sebuah “kompetensi merias“. Kalau biasanya yang dirias adalah diri sendiri ataupun orang lain, kali ini sepertinya akan jauh lebih berbeda. Tahu kenapa? Karena yang dirias adalah jenazah. Mulai merindingkan sekarang? Untuk lebih jelasnya lagi, mari kita lihat penjelasannya di bawah ini.

Kompetisi Merias Jenazah

Keunikan tentang Jepang memang tidak pernah ada habisnya. Kalau dikaji satu persatu, mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama, karena keunikan tersebut tidak hanya stay disitu-situ saja, melainkan terus mengalami perkembangan seiring dengan berjalannya waktu. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Jepang selalu menjadi pusat perhatian di dunia.

Pada tanggal 24 Agustus kemarin, negara penghasil sushi terlezat di dunia ini telah mengadakan sebuah kompetisi merias jenazah. Perlombaan ini diselenggarakan pada sebuah acara bernama Life Ending Industry EXPO 2017 di Tokyo. Sebelumnya, apakah anda pernah mendengar tentang kompetisi ini? Jika anda pernah menonton film ‘Departures’, anda pasti tahu kan tentang ritual unik yang satu ini?

Kompetisi merias yang dimaksud di sini bukanlah seperti yang biasa anda lihat atau mungkin pernah anda ikuti, karena yang dirias bukanlah bagian wajahnya, melainkan hanya memakaikan baju pada mayat saja. Meskipun hanya memakaikan pakaiannya saja, namun tidak semua orang bisa melakukannya lho guys. Ada sekitar kurang lebih 4 orang yang menjadi peserta yang mengikuti kompetisi ini.

Sebenarnya, jenazah yang akan dipakaikan baju di dalam perlombaan ini bukanlah mayat asli. Jadi anda tidak perlu khawatir ataupun merasa takut lagi seperti yang sebelumnya. hehe. Objek yang akan menjadi jenazah ini adalah para sukarelawan.

Penilaian Kemenangan

Memakaikan baju pada mayat ini bukanlah hal yang mudah dan sembarangan. Hanya para ahlinya sajalah yang bisa melakukannya. Para peserta yang mendandani mayat harus memiliki keterampilan kuno dan mampu memakaikan baju dengan selembut mungkin, tanpa membuat tubuh jenazah ‘terekspos‘ terlalu banyak. Gerakan mereka yang lembut inilah yang akan menunjukkan sebuah  penghargaan yang tinggi untuk mayat tersebut.

Praktik mendandani mayat ini biasanya diadakan oleh para penganut agama Shinto yang merupakan mayoritas penduduk yang tinggal di Jepang. Berdasarkan keyakinan Shinto, arwah orang yang sudah meninggal akan menjadi kotor, sesaat setelah meninggalkan tubuhnya.

Proses memakaikan baju yang biasanya dilakukan oleh sang ahli di depan keluarga jenazah ini bermaksud untuk menyucikan arwah, sebelum ia memasuki alam baka. Wah, ngeri-ngeri sedap juga ya tradisi di Jepang ini.

Nah, di akhir kompetisi yang telah dilangsungkan, maka juri pun mengumumkan pemenang dari kompetisi ini. Adapun pemenangnya adalah seorang wanita yang bernama Rino Terai, yang usianya saat itu adalah 23 tahun.

Menurut pengakuannya, kemenangan yang berhasil didapatkannya itu merupakan hasil dari latihan, persiapan dan kerja kerasnya sebelum kompetisi ini dimulai. Adapun hasil dari perlombaan ini telah dinilai oleh tiga orang juri,

Tujuan Kompetisi

Seperti pepatah yang mengatakan “Tidak ada asap kalau tidak ada api“, demikian juga dengan penyelenggaraan kompetisi ini. Tentu saja ada tujuannya. Sebenarnya maksud dari perlombaan ini dibuat adalah untuk melahirkan kembali para ahli-ahli atau pekerja dalam bidang ini.

Profesi untuk mendandani mayat atau jenazah merupakan salah satu profesi yang paling dicari di Jepang. Pasalnya di negara itu jumlah warga lanjut usia lebih banyak dibandingkan dengan para pemuda.

Tapi sayangnya profesi ini sudah banyak berkurang sejak terjadinya gempa bumi di Pantau Timur Laut Jepang dan juga tsunami pada tanggal 11 Maret 2011 lalu, yang telah menewaskan lebih dari 15.000 jiwa.

Istilah yang sering digunakan untuk menyebut profesi unik ini adalah nokanshi. Pekerjaan ini pun biasanya dilakukan oleh orang pendatang seperti dari Korea, karena pada masa itu profesi ini tak begitu banyak diminati oleh warga pribuminya. Pada tahun 2009 yang lalu, profesi ini diangkat dalam sebuah film berjudul “Departures” dan telah berhasil memenangkan piala Oscar dalam kategori film berbahasa asing terbaik.

Setelah selesai menonton film ini, barulah anda akan melihat betapa penting dan indahnya pekerjaan sebagai Nokashi di negara ini. Apalagi jika melihat setiap gerakan-gerakan yang dilakukan oleh seorang Nokanshi dalam mengurus mayat dengan begitu penuh perasaan. Untuk bisa menjadi sang ahli, masing-masing nokanshi memiliki seni tersendiri atau masing-masing.

Tidak hanya merias, seorang Nokanshi juga diharapkan untuk mampu memimpin ritual, mulai dari pemandian, doa, hingga dimasukannya jenazah ke dalam peti mati sebelum akhirnya dikremasi.

Sebagai seorang perias mayat, mereka sama sekali tidak memiliki rasa takut. Mereka selalu melaksanakan tugasnya sebagai salah satu pelayan masyarakat. Melihat tugas mereka yang begitu mulia, sepertinya sangat tidak pantas jika profesi mereka diremehkan dan dianggap rendah.

Kalau dipikir-pikir, jika jumlah ahli yang mengemban profesi ini semakin lama semakin berkurang, apa yang akan terjadi? Siapa yang akan melakukan ritualnya? Apakah anda bisa melakukannya sendiri? tentu tidak, kan? 

Jadi, sebisa mungkin hargailah profesi dan tugas mereka. Anda harus ingat bahwa tidak ada profesi atau pekerjaan yang hina di bumi ini, selama anda melakukannya dengan jujur dan bertanggung jawab. Daripada anda mencuri atau membunuh demi mendapatkan uang, kan lebih baik jika anda bekerja sebagai pengamen ataupun pemulung. Setuju tidak?