Sadari Bahaya AI, Google dan OpenAI Lakukan Kerja Sama

371

Robot, robot dan robot. Rasanya teknologi yang berkembang pesat saat ini tidak lepas kaitannya dengan keberadaan robot canggih yang siap membantu kehidupan manusia.

Bicara soal robot, maka tidak akan lepas kaitannya dengan kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan sebutan AI (Artificial Intelligence).

Informasi yang akan dibahas di dalam artikel ini tidak lagi berbicara tentang apa itu AI atau robot dengan kecerdasan buatan karena sudah banyak yang membahas tentang hal tersebut.

Jadi kalau begitu, apa yang akan dibahas? Pasti anda mulai penasaran kan sekarang? Santai guys, informasi yang akan disampaikan adalah tentang kerjasama yang dilakukan oleh Google dan OpenAI.

Keduanya bekerja sama untuk mencari cara untuk mencegah terjadinya pemberontakan yang kemungkinan akan dilakukan oleh kecerdasan buatan di masa depan.

Mungkin beberapa dari anda menganggap bahwa tindakan ini terdengar agak sedikit berlebihan, tapi meskipun begitu, tidak ada salahnya jika dilakukan tindakan pencegahan sebelum hal yang buruk terjadi. Bukankah langkah pencegahan lebih penting dari pengobatan? 

Kerjasama Google dan OpenAI

Pada dasarnya robot adalah hasil ciptaan manusia yang memang sengaja dibuat untuk membantu manusia menyelesaikan beberapa tugas atau permasalahan. Yah, benar tujuannya adalah untuk mempermudah pekerjaan manusia.

Akan tetapi, lambat laun sepertinya mulai terjadi keganjalan mengenai penciptaan robot atau kecerdasan buatan tersebut. Manusia terlalu terlena menciptakan mereka dan melupakan hal yang sebenarnya lebih penting.

Keberadaan kecerdasan buatan ini membuat manusia banyak kehilangan perannya dalam kehidupan karena beberapa tugas yang seharusnya menjadi kewajiban mereka sudah digantikan oleh kecerdasan buatan.  Kalau dibiarkan terus-terusan begini, apakah ada kemungkinan terburuk yang akan terjadi?

Jawabannya bisa “ya” dan “tidak”. Kemungkinan apa saja bisa terjadi di dunia ini. Untungnya bahaya akan kecerdasan buatan ini mulai disadari oleh Google dan OpenAI.

Google dan OpenAI merupakan dua perusahaan besar di dunia yang memiliki peranan dan dampak yang besar bagi perkembangan teknologi yang ada.

Google sendiri adalah sebuah perusahaan Amerika Serikat yang sangat terkenal di masyarakat dunia, melalui mesin pencarinya yang juga bernama Google.

Sedangkan OpenAI merupakan sebuah perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk selaku CEO Telsa. OpenAI adalah sebuah perusahaan non-profit, yang berfokus dalam penelitian AI (Artificial Intelligence) yang bertujuan untuk memberikan manfaat bagi kepentingan umat manusia.

Perusahaan yang sempat menyedot perhatian dunia pada masa pendiriannya ini, juga pernah mencuri perhatian berkat sebuah karyanya yang luar biasa.

OpenAI berhasil membuat sebuah bot atau sebuah program yang mampu bekerja secara otomatis, dimana bot karya OpenAI tersebut mampu bertanding secara 1 on 1 (satu lawan satu) di dalam sebuah permainan yang sangat populer di masyarakat, yaitu game DOTA 2, melawan Danil Ishutin, yang merupakan salah satu pemain DOTA 2 terbaik di dunia.

Siapa sih yang tidak mengenal Danil Ishutin? Pria yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Dendi ini merupakan seorang pemain Dota 2 profesional, yang berasal dari kota Lviv, Ukraina.

Ia adalah seorang gamer profesional yang memiiliki pendapatan tertinggi ke-44 di dunia dan ia telah memenangkan kurang lebih $732.549,40 dollar Amerika Serikat dari hadiah turnamen yang diikutinya.

Ia bermain untuk tim Natus Vincere (Na’Vi) sejak tahun 2010 dan merupakan salah satu pemain Dota 2 yang paling terkenal. Hero andalannya adalah Pudge dan Templar Assassin.

Namun sayangnya, di dalam pertandingan tersebut Danil Ishutin harus menerima kekalahannya, karena ternyata dirinya dapat dengan mudah dikalahkan oleh kecerdasan buatan karya OpenAI tersebut.

Sebelumnya, bot yang merupakan karya OpenAI ini rupanya telah berhasil mengalahkan dua pemain top DOTA 2 lainnya, yaitu Artour ‘Artezzy’ Babaev dan Syed ‘Suma1L’ Hassan.

Fakta lain yang tak kalah mencengangkannya adalah ternyata bot ini hanya dilatih selama kurun waktu dua minggu saja. Dan proses pelatihannya pun hanya dengan cara bermain melawan dirinya sendiri dengan berbagai variabel, tanpa memberikan strategi khusus ataupun belajar dari manusia.

Bukti Robot Bisa Kalahkan Manusia


Kemenangan yang didapatkan oleh Bot ini telah membuktikan bahwasannya kecerdasan buatan bisa lebih unggul atau mengalahkan manusia.

Coba bayangkan apa yang akan terjadi dikedepannya jika dunia ini dipenuhi dengan kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan seperti Bot yang diciptakan oleh OpenAI tersebut?

Mungkin hal ini terlihat atau terdengar seperti cerita-cerita yang ada di dalam film, dimana ada kemungkinan besar di masa depan robot akan menguasai manusia. Buktinya saja, seperti yang tadi sudah diberitahukan kalau ternyata kecerdasan buatan dapat mengalahkan manusia dalam game, yang pada dasarnya dibuat dengan AI.

Bukan hanya itu saja, sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, yang akan membuat manusia mulai mempertimbangkan penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan mereka.

Kabar yang mengejutkannya lagi adalah berita mengenai robot shopia yang dianugerahi kewarganegaraan karena memiliki kecerdasan buatan yang luar biasa, yang sempat menjadi pusat perhatian masyarakat dunia. Bayangkan guys, sebuah mesin bisa memperoleh kewarganegaraan dengan semudah itu. Bagaimana dengan nasib manusia? 

Google dan OpenAI Ambil Langkah Pencegahan Pemberontakan AI

Karena tidak ada satupun manusia di bumi ini yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, maka Google dan OpenAI mencoba untuk mengambil langkah terbaik dengan cara mencoba menemukan langkah untuk mencegah kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa depan.

Kerjasama antara Google dan OpenAI, yaitu laboratorium yang sebagian didanai oleh Elon Musk, kabarnya telah merilis sebuah artikel penelitian yang menguraikan tentang metode pembelajaran mesin baru. Pembelajaran ini memerlukan isyarat dari manusia ketika harus mempelajari tugas baru.

Penelitian terbaru, yang saat ini tidak diterbitkan namun tersedia untuk dilihat di repositori arXiv, menunjukkan sebuah pendekatan untuk mengajar AI, yaitu sebuah sistem tentang bagaimana mempelajari tugas baru dengan menggunakan arahan dan pengajaran yang diperantarai manusia

Cara ini bisa lebih aman daripada membiarkan mesin AI mengetahui sendiri bagaimana cara untuk memecahkan masalah, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan dan dirancang untuk menekan gerakan yang tidak dapat diprediksi dan mengejutkan yang bisa dilakukan oleh AI.

Artikel penelitian tersebut menguraikan tentang salah satu masalah utama yang melibatkan kecerdasan buatan atau AI dan merevisi pendekatan pembelajaran mesin yang disebut dengan penguatan pembelajaran, dimana perangkat lunak akan menguji berbagai solusi potensial untuk suatu tugas tertentu dan mulai menyempurnakan yang terbaik berdasarkan struktur penghargaan.

Kecurangan terkadang bisa menjadi cara yang paling efisien untuk mencapai reward maksimum. Hal itulah yang terjadi pada saat OpenAi mencoba membuat AI bermain di dalam sebuah game. Di dalam game tersebut, AI ditipu dengan mencetak poin, yang dilakukan dengan berkeliling di seputar lawan untuk menyelesaikan permainan.

Ini adalah cara persis bagaimana program DeepGoMAX AlphaGo berhasil belajar bagaimana mengalahkan gawang dari banyak pemain juara dunia Go.

AlphaGo sendiri merupakan sebuah program komputer, yang dikembangkan oleh Google DeepMind yang berada di London untuk memainkan permainan papan Go.

Pada bulan Oktober 2015 yang lalu, AlphaGo menjadi program Go komputer pertama yang berhasil mengalahkan pemain manusia profesional tanpa handicap pada papan berukuran 19×19.

Sayangnya, penguatan pembelajaran berdasarkan fungsi penghargaan bukanlah pendekatan yang mudah. Sistem AI mungkin akan menggelepar ketika harus menyelesaikan tugas yang sulit.

Atau mungkin memilih untuk menemukan jalan pintas yang pada dasarnya mengalahkan tujuan tugas (misalnya, seperti pengamatan Wired, dimana OpenAI pernah menggunakan pembelajaran penguatan untuk mengajarkan agen cara bermain game balap kapal dan sistem tersebut menemukan cara untuk mencetak gol).

Oleh karena itu, Google dan OpenAI memutuskan untuk melihat apakah software AI akan bekerja lebih baik jika memanfaatkan umpan balik manusia.

Robot simulasi yang disebut Hopper belajar bagaimana melakukan backflip setelah memproses 900 putusan yang berbeda dari pelatih manusia saat ia mencoba gerakan yang berbeda.

Dalam waktu 45 menit, Hopper belajar bagaimana memasukkan backflip yang sangat elegan sebagai lawan dari backflip berbentuk canggung yang dicapai selama rentang waktu dua jam, dengan menggunakan pembelajaran penguatan konvensional.

Jadi singkat katanya, dengan menggunakan isyarat reward dari manusia, yang berlawanan dengan sistem reward otomatis selama tujuan tercapai, masa depan AI akhirnya bisa sampai pada titik di mana ia dapat berperilaku dengan cara yang sesuai dengan tujuan, sambil memuaskan preferensi kita sebagai manusia.

Namun ada kelemahan dari metode ini, yakni bahwa hal itu memerlukan banyak feedback dari manusia yang mungkin belum ideal atau efisien.

Tapi melalui kolaborasi seperti ini, mungkin saja manusia bisa mengendalikan, mengarahkan perkembangan AI dan mencegah mesin untuk menjadi lebih pintar dengan tujuan menghancurkan kita semua.

Sebenarnya kekhawatiran akan AI atau kecerdasan buatan ini bukanlah kali pertamanya terjadi. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2014, Musk telah mengatakan hal tersebut di sebuah pertemuan.

Musk mengatakan kalau AI merupakan sebuah ancaman eksistensial terbesar di bumi. Dia menambahkan bahwa dia cenderung berpikir bahwa harus ada peraturan pengawasan nasional atau internasional terhadap AI untuk memastikan bahwa mereka tidak akan melakukan sesuatu yang sangat radikal.

Kesimpulan

Nilai dan kekuatan dari kecerdasan buatan berkembang secara dramatis setiap tahunnya dan kelihatannya akan segera mendominasi kehidupam masyarakat dunia secara keseluruhan.

Namun, AI saat ini terfragmentasi oleh lingkungan pengembangan yang tertutup, dimana sebagian besar dikembangkan oleh beberapa perusahaan untuk melakukan tugas tertentu.

Niat untuk menciptakan AI memang baik, hanya saja tetap memerlukan tindakan antisipasi dari manusia, khususnya pencipta dan pengembangan AI tersebut. Dan tampaknya hal tersebut disadari oleh dua perusahaan teknologi besar dunia, yaitu google dan OpenAI.

Keduanya bekerjasama untuk menemukan cara untuk mencegah AI mendominasi kehidupan manusia, dengan cara menciptakan sebuat metode atau pendekatan tertentu. Meskipun sifatnya memanipulasi AI, namun metode yang diterapkan ini diharapkan bisa mengatasi masalah tersebut.

Para peneliti memang perlu melakukan pendekatan yang lebih aktif dan intervening dalam mengajar dan memajukan AI, karena akan selalu ada kekhawatiran besar bahwa AI dapat dengan cepat menyimpang dari fungsi yang mereka harapkan, terutama dengan cara yang dapat mengancam keamanan manusia.

Dan adapun solusi yang bisa dilakukan adalah banyak melibatkan manusia secara langsung dalam penggunaan AI. Meskipun pendekatan yang dilakukan tersebut tidak mudah, namun kedua perusahaan tersebut akan mengusahakan yang terbaik.

Selesai sudah informasi ini kami sampaikan, semoga bisa menambah wawasan anda tentang perkembangan AI (Kecerdasan Buatan) yang sangat marak di dunia ini. Selamat beraktivitas kembali.