Falcon UAV, Drone Yang Dirancang Untuk Membantu Tugas Polisi

81

Negara Orwellian yang ada di dalam novel non-fiksi politik tahun 1984, yang merupakan karya dari George Orwell, tampaknya akan menjadi lebih dari sekedar sebuah realitas di kehidupan moderen sekarang ini.

Jika anda belum pernah mendengar atau membacanya, cerita yang ada di dalam novel tersebut sebenarnya mengisahkan tentang dunia masa depan yang mengerikan.

Dunia itu dihuni oleh manusia yang menjadi budak dari salah satu dari tiga negara adidaya, dimana masing-masing dipimpin secara otoriter oleh sebuah partai tunggal, yang saling berperang satu sama lain.

Setiap negara memiliki sistem tersendiri untuk membodohi rakyatnya lewat media yang dimanipulasi. Pikiran mereka dikendalikan dan perilaku diawasi, semata-mata demi membenarkan tindakan penguasanya yang hanya mementingkan kekuasaan dibanding rakyatnya.

Apakah yang terjadi di dalam novel ini akan terjadi juga di masa depan? Atau apakah ini hanyalah sebuah pikiran yang berlebihan yang dilakukan oleh orang-orang yang terlalu naif, mereka yang tengah bermain teori konspirasi atau mungkin karena ketakutan yang berlebihan dari si penulis?

Mungkin saja ini adalah salah satu gambaran masa depan yang memerlukan perhatian khusus dari masyarakat untuk mulai memberikan keamanan di lanskap global yang selalu berubah, dimana terorisme terselubung dan masih banyak lagi ancaman lain yang bersiap untuk muncul ke permukaan.

Ini adalah masalah yang rumit tanpa adanya jawaban yang jelas.

Namun satu hal tetap pasti benar, yaitu sampai saat ini program pengawasan, seperti melacak panggilan telepon dan mengakses metadata Internet, sebagian besar sudah terwujud dalam spektrum keamanan yang hampir metafisik.

Bagaimanapun kehidupan pasti akan mengalami perubahan, layaknya perubahan demi perubahan yang terjadi pada wajah anda.

Kerjasama Antara Drone dan Polisi

Dengan meluasnya penggunaan kendaraan udara tak berawak (UAV) di Timur Tengah dan masa depan yang tak terhindarkan untuk mengendarai mobil yang bisa berjalan sendiri, tidak akan mustahil rasanya jika pesawat tak berawak mungkin akan menggantikan mobil polisi yang saat ini berpatroli di jalanan.

Coba bayangkan masa depan, dimana pesawat yang tidak berangka manuver di langit melakukan pekerjaan detektif. Apakah teknologi ini mampu memerangi kejahatan lebih baik dari yang sebelumnya? Dan apakah alat ini bisa membuat pekerjaan polisi menjadi lebih efisien dan efektif ?

Mesa County – Rumah Baru Drone

Mungkin anda akan terkejut jika mendengar bahwa drone telah membuat sedikit percikan di ranah pekerjaan polisi zaman moderen, terutama di departemen Sherriff, yang berada di Mesa County, Colorado. Sejak Januari 2010 yang lalu, departemen tersebut telah mencatat 171 jam terbang dengan dua pesawat drone.

Hanya sekitar satu meter panjangnya dan beratnya kurang dari lima kilogram, dua Falcon UAV yang ada di kantor Sheriff ini sangat berbeda jauh dari pesawat predator yang saat ini digunakan dalam perang teluk.

Benar-benar tidak bersenjata dan tak berawak, drone Sherriff ini sepenuhnya dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi dan teknologi pencitraan termal.

Namun, kurangnya daya tembak yang alat ini miliki membuat drone yang digunakan untuk menjaga keamanan ini menjadi tidak terlalu menakutkan.

Sementara itu, Ben Miller selaku direktur program menegaskan bahwa pengawasan terhadap warga negara bukanlah bagian dari agenda masuk akal atau tidaknya, melainkan tentang bisa dipercaya atau tidaknya drone tersebut dalam menjalankan tugas.

Menurut anda, bisakah kita mempercayainya? Apakah sebuah set kamera suduh cukup untuk melakukan pekerjaan mata-mata? Jawabannya adalah tidak. Atau tepatnya belum bisa menjalankan tugas dengan sebaik yang dilakukan oleh mata-mata asli.

Daripada memata-matai dengan cara meng-zoom atau memperbesar jendela apartemen, kamera yang saat ini dipasang di drone Falcon dianggap jauh lebih cocok untuk mengambil gambar dengan sudut pandang yang lebih luas.

Namun tetap saja teknologi penglihatan termal pesawat tersebut juga memiliki keterbatasan tersendiri. Dalam sebuah demonstrasi yang dilakukan untuk majalah Air and Space beberapa waktu yang lalu, Miller menmperlihatkan bagaimana kamera termal Falcon tersebut bahkan tidak dapat membedakan apakah orang yang dilacak di layar adalah laki-laki atau perempuan.

Kalau membedakan gender saja belum bisa, bagaimana mungkin drone tersebut bisa menguraikan identitas orang yang direkam di dalamnya?

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa Falcon UAV tidak memiliki kemampuan untuk menembaki penjahat atau melihat seseorang di dalam kerumunan.

Hal ini tentu saja menjadi menimbulkan kekhawatiran publik dan menegaskan kembali pernyataan yang dikeluarkan oleh Miller dan menimbulkan sebuah pertanyaan, seperti “Jika tidak untuk pengawasan, lantas untuk apa departemen Sherriff menggunakan pesawat tak berawak ini?

Penggunaan Drone Dalam Kepolisian

Penciptaan drone untuk kepolisian ini diharapkan akan melengkapi upaya misi pencarian dan penyelamatan di County. Berukuran kecil, memiliki taktil sensor dan tidak berawak, pesawat drone ini bisa digunakan untuk membantu menemukan dan menyelamatkan orang-orang yang hilang di hutan belantara atau yang terjebak dalam reruntuhan setelah bencana alam.

Terutama jika pesawat terbang tak berawak tersebut tidak dibatasi untuk menjelajahi daerah tertentu karena masalah medan atau pun ukurannya. Semua tanpa risiko bagi mereka yang mengemudikan perangkat itu.

Dengan kemampuan terbang secara mandiri melalui pola grid yang telah diprogram sebelumnya, UAV juga dapat memberikan dukungan konstan kepada polisi sepanjang hari. Hal ini terbukti sangat berguna dalam kasus orang hilang, dimana setiap jam adalah waktu yang berharga untuk melakukan penyelamatan.

Selain itu, dengan program drone Sheriff yang menghabiskan biaya sedikitnya $ 10,00 sampai $ 15.000 sejak awal tahun 2009, semua tanda menunjuk pada jawaban setuju jika kelak drone tersebut memang benar-benar diaplikasikan, karena kemajuan teknologi yang efektif untuk membantu upaya polisi dan tim penyelamat sangat diperlukan dikedepannya.

Kekurangan Drone

Meskipun drone bisa memberikan ruang kepada Sheriff dengan sepasang mata tambahan di langit, namun mereka masih terbukti kurang dari standar yang diperlukan saat ditugaskan ke misi pencarian dan penyelamatan kehidupan nyata.

Di dalam dua penyelidikan terpisah yang dilakukan tahun lalu, yang melibatkan pejalan kaki yang hilang dan kasus wanita bunuh diri yang hilang, pesawat tak berawak ini tidak berhasil menemukan lokasi orang-orang yang hilang tersebut.

Miller mengakui bahwa sejauh ini drone besutannya memang belum pernah menemukan orang hilang. Dia juga mengatakan bahwa sejak empat tahun yang lalu, dia percaya bahwa kelak drone buatannya akan sangat keren dan bermanfaat serta bisa menyelamatkan dunia.

Kelemahan lain yang dimiliki pesawat tak berawak ini adalah terletak pada masa pakai baterai yang digunakanFalcon UAV hanya bisa terbang selama satu jam saja dan setelah itu harus diisi ulang kembali.

Kelebihan Falcon UAV

Namun, meskipun gagal menemukan orang-orang yang hilang, pesawat tak berawak secara keseluruhan membantu mempercepat upaya polisi dan menghemat waktu yang berharga, saat mencari orang hilang di daerah-daerah tertentu yang membutuhkan jangkauan yang luas.

Seiring dengan dukungan publik yang kuat untuk mendukung penggunaan pesawat tak berawak ini sebagai “alat pencarian dan penyelamatan”, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Monning University Monmouth Institute, adopsi drone oleh pasukan polisi pada waktunya akan meningkatkan proses penyelamatan.

Dengan kemampuan mengambil foto dari udara, departemen Sherriff bisa menggunakan pesawat tak berawak tersebut untuk menangkap gambar TKP.

Gambar itu kemudian dikompilasi dan diberikan pada para ahli komputer untuk diteliti dan diselidiki, sehingga nantinya foto-foto tersebut memungkinkan pihak penegak hukum untuk melihat kejahatan dari sudut pandang yang baru.

Bayangkan, dengan menggunakan drone ini, polisi akan memiliki akses ke model interaktif 3D akurat tentang dimana dan bagaimana tindak kejahatan sedang terjadi atau dilakukan. Ini bisa menjadi hal terhebat yang pernah ada dari yang sebelum-sebelumnya.

Chris Miser, pemilik perusahaan yang merancang pesawat Falcon ini bahkan telah menguji UAV-nya untuk memantau perburuan liar atas cadangan hewan di Afrika Selatan.

Dengan berbagai penelitian yang dilakukan pada drone ini, diharapkan kelak benda ini bisa benar-benar digunakan untuk membantu manusia melakukan tugasnya, khususnya dalam membantu pekerjaan polisi.

Pro dan kontra penggunaan drone tersebut pastinya akan ada. Akan ada pihak-pihak tertentu yang menolak kehadirannya untuk alasan ketakutan nantinya manusia secara perlahan akan digantikan oleh robot.

Hal tersebut sah-sah saja, karena setiap orang pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Semuanya itu kembali lagi pada bagaimana cara anda menanggapinya. Kalau menurut anda bagaimana?