Kecanduan Upload Foto, Bisa Jadi Anda Korban “Kebohongan” Media Sosial

391

Dalam sehari, seberapa seringkah anda meng-update foto, video atau semacamnya di instagram? 3 kali kah atau bahkan lebih? Atau karena sanking seringnya, anda menjadi kesulitan untuk mengingat atau menghitungnya? Bisa jadi kan? Tapi terlepas dari semuanya itu, tahukah anda bahwa tanpa anda sadari, anda telah hidup di dalam sebuah kebohongan instagram?

Apa sih yang dimaksud dengan kebohongan instagram itu? Sedikit penjelasan di bawah ini mungkin bisa menyadarkan anda tentang hal tersebut.

Sebenarnya, bukan media sosial nya yang salah, melainkan perilaku si pemakainya yang mulai menyimpang dari yang seharusnya. Meskipun pembuatan awalnyanya sebenarnya bertujuan untuk hal-hal yang baik, namun penggunaan media sosial saat ini dalam beberapa hal bisa sangat berdampak buruk untuk anda, baik secara fisik maupun mental.

Kali ini, yang akan dibahas di dalam artikel berikut ini bukanlah mengenai dampak dari penggunaan instagram, karena sebelum-sebelumnya sudah banyak sekali artikel yang memuat hal-hal semacam itu. Tapi bagaimana hasilnya? “Nihil”. Bak pepatah yang mengatakan “Anjing menggonggong kafilah berlalu”, begitu pula lah masyarakat menganggap kalimat-kalimat pemberitahuan dan larangan tersebut. Betul nggak?

Entah karena masyarakat memang terlalu cuek, ataukah karena memang pada dasarnya manusia diciptakan dengan ego yang tinggi, sehingga sangat sulit untuk dinasehati dengan cara-cara seperti itu? Untuk pertanyaan yang satu ini, anda sendirilah yang bisa menjawabnya.

 Instagram vs Reality

Menurut anda, apa sih sebenarnya kegunaan dari Instagram? Saat pertanyaan ini anda tanyakan pada beberapa orang, khususnya kepada mereka yang masih berusia remaja dan dewasa (anak-anak muda), bisa dipastikan bahwa kurang lebih sebanyak 98% dari mereka akan memberi jawaban seperti ini: “untuk meng-update foto-foto, video dan sebagainya”. Kalau anda tidak percaya, silahkan saja anda coba.

Memang benar kalau instagram memiliki kegunaan sebagai tempat untuk berbagi foto ataupun video kepada teman-teman yang ada di sana. Tapi, hal penting yang harus anda garis bawahi adalah, bahwa foto-foto ataupun video yang anda unggah di sana haruslah “real”. Tahukan maksudnya real itu apa dan bagaimana?

Maksud dari foto-foto real itu adalah, foto-foto tersebut memang ‘pure’ terjadi tanpa adanya rekayasa tertentu. Caption yang anda tuliskan pada foto-foto tersebut juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada. Dengan begitu, barulah bisa dikatakan bahwa anda telah menggunakan instagram dengan cara yang benar dan seharusnya.

Masih bingung dengan maksud penjelasan di atas? Untuk anda yang masih bingung-bingung, mungkin video di bawah ini bisa menyadarkan dan membuat anda menjadi lebih mengerti:

Setelah anda menonton video di atas, apakah yang bisa anda simpulkan? Tidakkah hati anda merasa tersindir dengan adanya video tersebut? Ataukah mungkin anda tidak merasakan apa-apa setelah melihatnya? Semua itu kembali lagi kepada bagaimana anda memandang sesuatu tersebut dan menyikapinya.

Video di atas dibuat oleh Ditch the Label, yaitu sebuah organisasi anti-intimidasi, yang berdomisili di Amerika Serikat, Inggris dan Meksiko. Mereka mencoba untuk membuat sebuah video berdurasi pendek, yang menggambarkan secara detail bagaimana kehidupan sesungguhnya para pencandu media sosial khususnya instagram saat ini.

Setiap harinya, eits, atau yang benar setiap beberapa jam sekali, ada sekitar ribuan lebih orang, yang mengunggah foto ke Instagram. Foto-foto yang ditampilkan pun cenderung cantik, indah dan keren abizz, seakan-akan hidup mereka terlihat luar biasa menyenangkannya. Tapi tidak ada yang pernah tahu apakah hidup mereka memang benar se-menyenangkan itu atau tidak.

Yang bisa menjawabnya hanya mereka yang mengunggah foto tersebut. Lihat saja contohnya pada video di atas tadi. Foto-foto dengan hasil yang baik itu didapat dengan adanya rekayasa atau paksaan atau kalau bahasa gaulnya di sebut dengan ‘tidak natural’.

Apa yang diupload oleh seseorang di media sosial belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Bisa saja, demi mendapatkan atau menghasilkan sebuah foto yang menarik, seseorang bahkan rela menghabiskan banyak waktu, hanya supaya gambar dirinya menjadi tampak sangat ideal dan membuat orang-orang yang melihatnya merasa terkagum-kagum dan iri.

Apalagi sekarang ini sebuah foto saja bisa dijadikan sebagai sesuatu yang memprovokasi dan memperlihatkan adanya perbandingan sosial yang begitu signifikan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut tentu saja bisa memicu perasaan seseorang menjadi rendah diri atau merasa iri. Tidak hanya itu saja, kebiasaan seperti ini juga akan memicu promosi diri yang jauh lebih besar di media sosial dan mengakibatkan mereka yang terlibat di dalamnya akan semakin jauh dari kenyataan yang ada.

Mau itu setuju ataupun tidak setuju, itulah fakta yang sebenarnya dari kehidupan yang terjadi saat ini. Mengerikan bukan? Mungkin saja anda adalah salah satu di antara mereka yang ada di video tersebut. Atau anda mungkin adalah orang yang terkena imbas perasaan iri saat melihat teman anda mengunggah fotonya yang jauh lebih cantik dan menarik dari anda. Bisa saja, kan?

Alat Untuk Mendapatkan Sebuah Pengakuan

Menurut seorang psikolog yang bernama Efnie Indrianie, perempuan yang sangat suka mengunggah foto dirinya di media sosial, sebenarnya bukanlah sebuah bentuk dari sebuah ekspresi untuk mencoba menampilkan kecantikan yang dimilikinya, tapi justru lebih pada membutuhkan sebuah pengakuan dari orang lain yang melihat unggahan tersebut.

Dengan kata lain, bisa disimpulkan kalau orang yang suka meng-update foto di media sosial, memiliki tujuan agar orang-orang yang melihat fotonya bisa memuji kecantikan dirinya. Hal inilah yang akan membuatnya merasa sangat puas karena telah mendapatkan pengakuan tersebut.

Cantik itu adalah the state of mind. Bedakan dengan butuh pengakuan,” kata Efnie dalam acara Dove Choose Beautiful di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Efnie juga mengatakan bahwa saat mencapai usia remaja atau peer group, periode tentang eksistensi dan keberadaan adalah dua hal yang sangat penting. Dan salah satu wadah untuk mendapatkan semuanya itu adalah media sosial.

Karena kata-kata larangan untuk tidak terlalu sering mengupdate foto di instagram sering sekali diabaikan, atau bahkan dianggap sama seperti sampah plastik yang berserakan di jalan, membuktikan bahwa larangan lewat kata hanyalah sebuah kesia-siaan dan tidak ada artinya.

Mungkin jika suatu ketika larangan-larangan tadi ternyata terbukti benar, tapi sayangnya ternyata anda sudah terlambat untuk menyadarinya, di saat yang bersaamaan pula penyesalan anda menjadi sama tidak bergunanya dengan larangan yang telah anda abaikan sebelumnya. Seperti 2 video yang ada di bawah ini:

Video di atas menggambarkan seorang wanita yang mengalami depresi akibat kecanduan media sosial. Mulai dari buka mata di pagi hari, segala sesuatu yang bisa di post, di post olehnya. Tapi coba lihat bagaimana raut wajahnya? Sebahagia foto dan captionnya di instagramnya kah? Tidak bukan?

Orang yang melihat fotonya di instagram, mungkin akan berpikir bahwa kehidupan wanita ini terlihat begitu menyenangkan. Tapi kenyataannya, semuanya itu ‘palsu’. Hari-harinya hanya diisi dengan meng-upload foto dan nge-stalking instagram teman-temannya yang lain. Alhasil? Anda bisa lihat bagaimana hampanya hidup wanita yang malang ini.

Kebiasaannya terus berlangsung seperti itu setiap harinya. Dia akan merasa depresi jika tidak melihat instagram ataupun mengupload foto di sana, walau hanya dalam hitungan menit saja. Perilaku depresi seperti inilah yang bisa terjadi pada anda jika anda mulai kecanduan terhadap media sosial atau mengabaikan larangan untuk mengurangi kebiasaan itu.

Apa sulitnya tidak nge-post apapun di instagram dalam sehari saja? Anda tidak mungkin langsung ‘mati’ bukan? Lantas, mengapa anda tidak pernah melakukannya?

Video yang kedua adalah sebuah bukti bahwa apa saja yang anda post di mesia sosial, baik itu foto ataupun status, bisa sangat membahayakan diri anda. Tahu kenapa? Karena status-status tertentu akan menarik perhatian orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang jahat terhadap anda.

Itulah mengapa sangat penting untuk menyaring terlebih dahulu post-post anda di media sosial seperti instagram misalnya, sebelum benar-benar akan di upload. Beberapa hal sangat penting untuk anda perhatikan dalam hal menggunakan media sosial ini. Jangan sampai anda terjerat atau terperangkap karena ulah anda sendiri. Ingat ya, guys.

Apakah ketiga video di atas belum cukup untuk memberikan anda pelajaran, tentang bahaya dari kebiasaan memasukkan foto dan segala macamnya ke instagram? Apa salahnya jika mulai sekarang anda mengurangi kebiasaan buruk tersebut? Kenapa anda lebih memilih bercengkerama dengan benda mati, dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sekitar anda?

Seperti yang dikatakan tadi, semua kembali lagi kepada pribadi anda masing-masing. Artikel ini hanya sekedar memberikan informasi saja, urusan pengaplikasiannya, semua tergantung pada anda. Semoga anda bisa memilih dan memilah hal-hal mana yang baik dan tidak untuk anda. Jangan sampai anda menjadi korban dari kebohongan instagram tersebut.