Mengenal Dorothea Dix, Pahlawan Para Penderita Gangguan Mental

668

Setiap orang memiliki kemungkinan yang besar untuk terkena stress. Beberapa diantaranya bahkan sampai harus terkena gangguan mental, yang mungkin disebabkan karena sanking tingginya tingkat stress yang mereka hadapi.

Tapi ada pula beberapa orang yang ternyata bisa hidup dengan gangguan mental tanpa harus mengalami banyak masalah. Itulah alasan mengapa setiap orang dikatakan rentan terkena gangguan ini.

Jadi, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan gangguan mental itu? Kenapa di atas disebutkan kalau semua orang berpeluang untuk mengembangkan penyakit ini?

Gangguan mental seringkali diartikan sebagai pola mental (psikologi), perilaku atau anomali yang menyebabkan penderitaan atau gangguan kemampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Jenis gangguan ini terkait dengan stres atau kelainan yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia.

Selama abad ke-19, gangguan kesehatan mental tidak dikenali sebagai kondisi atau penyakit yang bisa diobati. Keadaan yang seperti ini dianggap sebagai tanda dari kegilaan, yang akan dikenakan hukuman penjara seumur hidup bagi para penderitanya. Kejam sekali, kan?

Namun, seperti halnya di dalam cerita-cerita dongeng, seorang pahlawan pun hadir untuk mengubah persepsi dan aturan tersebut. Siapakah dia? Bisakah anda menebaknya?

Pahlawan yang dimaksud adalah Dorothea Lynde Dix, yaitu seorang wanita yang memutuskan untuk mengubah persepsi atau pandangan orang-orang terhadap mereka yang memiliki gangguan kejiwaan.

Apa kira-kira yang dilakukannya untuk mengubah hal tersebut? Adakah kendala yang dihadapinya selama mewujudkan keinginannya itu?

Masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang pasti sedang berputar-putar di kepala anda, bukan? Santai ya guys, kita akan segera membahasnya satu per satu.

Siapakah Dorothea Dix?

Lahir di Maine pada tahun 1802, Dorothea Dix adalah seseorang yang berperan penting dalam pembentukan layanan kesehatan mental manusiawi yang ada di Amerika Serikat. Sebagian dari anda mungkin sudah mengenal wanita ini sebelumnya.

Selama perang saudara di Amerika, Dix bekerja sebagai seorang guru dan perawat, yang tanpa lelah berkampanye untuk mendapatkan perlakuan yang adil terhadap pasien dengan gangguan kesehatan mental, setelah ia merasa kalau perlakuan yang diberikan kepada mereka sangat tak berkemanusian.

Dia tak tahan melihat kengerian yang harus diterima oleh orang-orang ini saat mereka dikurung hanya karena kondisi yang mereka derita. Toh juga tak ada satu pun di antara mereka yang ingin hal buruk seperti itu menimpa mereka.

Di dalam sebuah catatan Memorial to Legislatif Massachusetts pada tahun 1843 Dia pun menuliskan kalimat seperti ini:

“Saya melapor, kepada tuan-tuan, secara singkat untuk meminta perhatian anda kepada orang-orang dengan gangguan kejiwaan yang terkurung di dalam persemakmuran ini, yang dipenjarakan di dalam kandang! Mereka dirantai, dipukuli dengan tongkat dan dicambuk”.

Pada tahun-tahun berikutnya, Dix telah mengunjungi ratusan penjara dan rumah-rumah sosial yang tersebar di seluruh wilayah Amerika Serikat dan mendokumentasikan perlakuan tidak manusiawi, yang diterima oleh orang-orang dengan penyakit mental dan kemudian melaporkan temuannya tersebut ke Badan Legislatif negara bagian.

Niat dan usaha kerasnya untuk memberikan hak atau perlakukan yang layak tersebut berbuah manis. Dia tidak hanya menghasilkan 32 rumah sakit kesehatan jiwa di negara-negara A.S, namun juga telah membantu mengubah persepsi banyak orang tentang penyakit jiwa.

Paolo del Vecchio, selaku direktur dari Center for Mental Health Services at the Substance Abuse and Mental Health Services Administration, mengatakan kalau melalui pekerjaan yang dilakukannya, Dorothea telah menjelaskan pelecehan dan pengabaian yang diterima oleh mereka yang menderita gangguan mental.

Hal inilah yang membantu mengubah persepsi dan pendekatan kebijakan dari Pemimpin Negara, Nasional dan Internasional untuk menetapkan pendekatan pengobatan yang lebih manusiawi untuk orang-orang itu.

Di dalam kehidupan dan karir yang dijalani oleh Dix, masyarakat dunia kini bisa melihat sosok yang berperan begitu luar biasa dalam pengobatan, terutama untuk kesehatan jiwa.

Bagaimanapum juga, pengaruhnya untuk reformasi kesehatan mental selama lebih dari 200 tahun telah membantu pembentukan pengobatan jiwa yang ada saat ini.

Apa Alasan Dorothea Mau Melakukan Semua Hal Itu?

Tindakan dan usaha yang dikerjakan oleh Dorothea untuk membela kaum-kaum lemah dan tak berdaya tersebut tentu saja berasal dari hati dan kepeduliannya yang tulus.

Kalau bukan karena dorongan hati yang begitu kuat, rasa-rasanya sangat mustahil bagi seseorang bisa melangkah sejauh yang telah dilakukannya selama ini.

Tapi selain itu, ternyata ada beberapa hal yang juga berperan besar atau bisa dibilang menjadi alasan kuat Dix untuk melakukan hal tersebut.

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi alasan yang semakin memperkuat tekad dan keinginannya untuk mengubah pola pikir masyarakat pada zamannya.

Masa Kecil Yang Tidak Bahagia

Bagi kebanyakan orang, masa kecil merupakan masa-masa yang sangat menyenangkan. Bisa bermain dan menghabiskan banyak waktu dengan bahagia bersama keluarga tercinta adalah salah satunya. Tapi tampaknya hal tak berlaku untuk wanita yang satu ini.

Masa kecil Dix sedikit berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Kehidupannya tidak begitu bahagia sewaktu ia masih kecil. Ayahnya adalah seorang pecandu alkohol yang kasar. Sedangkan ibunya berjuang dengan penyakit jiwa yang dideritanya.

Pada usia 12 tahun, Dix melarikan diri dari rumahnya di Maine untuk tinggal dengan neneknya yang kaya di Boston, MA.

Meskipun tidak memiliki pendidikan formal, Dix merupakan seorang wanita yang cerdas dan ambisius, saat dia melanjutkan karirnya sebagai guru sekolah. Pada tahun 1821, tepatnya pada usianya yang masih 19 tahun, Ia telah membuka sekolah untuk gadis-gadis muda di rumah neneknya.

Pada tahun-tahun berikutnya, Dix menulis sejumlah buku anak-anak dan cerita pendek. Kemudian pada tahun 1831, Dia membuka sebuah sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu.

Namun, prestasi ini tidak didapatkannya dengan mudah. Dix sering menderita penyakit, termasuk batuk parah dan kelelahan, yang akhirnya mengakhiri karirnya sebagai guru.

Sebuah arsip yang memuat kisahnya menunjukkan bahwa penyakit fisiknya tersebut telah membahayakan kesehatan mentalnya, yang berujung menyebabkannya menjadi depresi.

Terinspirasi Penyakit Mentalnya Sendiri

Pada pertengahan 1830-an, Dix pergi ke Eropa dengan harapan bisa menemukan obat untuk penyakit yang tengah dideritanya. Dan selama berada di Inggris, dia bertemu dengan pembaharu sosial yang bernama Elizabeth Fry dan Samuel Tuke.

Fry adalah orang yang telah membantu mengeluarkan undang-undang baru di Inggris untuk membuat perlakuan terhadap narapidana lebih manusiawi, sementara Tuke berperan penting dalam mendirikan Retret York Inggris untuk orang-orang yang sakit mental.

Beberapa bukti menunjukkan bahwa pengalaman Dix tentang penyakit jiwa, yang didukung oleh karya para reformis sosial tersebut telah membantu menginspirasi dirinya untuk melakukan perubahan pada perawatan kesehatan mental di Amerika Serikat.

Seorang sejarahwan yang bernama Manon S. Parry menulis sebuah pernyataan bahwa perjuangan Dix sendirilah yang telah membantunya, sehingga Ia bisa menjadi pendukung dan berbelas kasih pada orang-orang yang telah didiagnosis tidak stabil secara mental atau gila. Hal ini ditulisnya di dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2006 lalu.

Pada tahun 1841, Dix mengajukan diri untuk mengajar sebuah Sekolah Minggu untuk narapidana wanita di sebuah penjara yang berada di Cambridge Timur, MA.

Di tempat inilah, dia bisa menyaksikan bagaimana sebenarnya penderitaan yang dialami oleh wanita dengan penyakit jiwa. Mereka dirantai ke tempat tidur, dibiarkan kelaparan dan dicaci, serta dihukum seolah-olah mereka adalah penjahat.

Merasa ngeri dan prihatin dengan keadaan itu, Dix pun mulai mengunjungi penjara dan rumah sosial di Massachusetts dan mendokumentasikan semua temuannya.

Apa Kontribusinya Pada Perawatan Kesehatan Mental Dunia?

Pada tahun 1843, temuan Dix dipresentasikan dalam Memorial to the Legislature of Massachusetts. Sebagai bagian dari Memorial, Dix meminta dana untuk memperkenalkan reformasi untuk perawatan pasien dengan penyakit jiwa di rumah sakit jiwa Worcester Insane Asylum. Tak bertepuk sebelah tangan, permintaannya tersebut ternyata disetujui.

Menurut Parry, hal ini telah menunjukkan bagaimana cara Dix bekerja di dalam konvensi pada masanya, dengan tujuan untuk mengukir peran dirinya di kehidupan politik dan menaruh dirinya pada perlakuan mengerikan dari orang-orang sakit mental yang tinggal di penjara dan penyandang cacat yang miskin.

Cita-cita feminitas yang dimilikinya menjadi tanda, bahwa perempuan memiliki tanggung jawab khusus kepada anggota masyarakat yang paling rentan dan memiliki otoritas moral yang lebih unggul daripada laki-laki.

Pada saat yang sama, Parry juga mengatakan kalau perempuan seharusnya dilindungi dari gambaran dan pengalaman tentang penderitaan dan degradasi. Setelah sukses di Massachusetts, Dix selanjutnya melakukan kampanye reformasi kesehatan mental ke negara-negara lain.

  • Mendirikan Sejumlah Rumah Sakit

Poin penting dalam usaha Dix adalah Bill for Benefit of the Indigent Insane, yang diajukan sebelum Kongres pada tahun 1854. RUU tersebut mengusulkan undang-undang untuk menyediakan lahan federal dan dana untuk pengembangan institusi mental baru.

Undang-undang yang disahkan oleh kedua majelis Kongres dan diveto oleh Presiden Franklin Pierce, yang menyatakan bahwa masalah kesejahteraan sosial harus menjadi tanggung jawab masing-masing negara dan bukan pada pemerintah federal.

Meski kecewa dengan keputusan itu, Dix masih terus membuat kemajuan di tingkat negara bagian. Antara tahun 1843 dan 1880, dia membantu mendirikan 32 rumah sakit jiwa baru di seluruh A.S, termasuk di New York, Indiana, Illinois, Rhode Island dan Tennessee dan terus memperbaiki perawatannya.

  • Mengubah Persepsi Banyak Orang

Jika dilihat-lihat dan dibandingkan, perawatan untuk pasien dengan gangguan kesehatan mental yang ada pada tahun 1800-an lalu sangatlah berbeda dengan yang ada saat ini.

Sekarang ini, sudah ada lebih dari 6.100 fasilitas rawat jalan kesehatan mental dan 800 fasilitas kejiwaan di A.S. Sedangkan dulunya hanya ada sekitar 123 rumah sakit jiwa pada tahun 1880.

Dix adalah salah satu yang paling berjasa dalam perawatan kesehatan mental, yang berjuang untuk hak dasar manusia dan memiliki tanggung jawab sosial untuk merawat warga yang rentan. Dia membantu mengubah pandangan orang terhadap orang-orang itu.

Seorang psikiater bernama Dr. Fuller Torrey, sekaligus direktur eksekutif Stanley Medical Research Institute, mengatakan bahwa Dorothea telah mengubah persepsi mereka.

Namun, tetap saja masih banyak hal yang perlu dicapai di bidang kesehatan mental ini. Para ahli percaya bahwa kita bisa belajar banyak dari tokoh inspirasi seperti Dix ini.

Perkiraan Jumlah Orang Yang Memiliki Gangguan Mental

Menurut National Alliance on Mental Illness, ada sekitar 1 dari 5 orang dewasa di A.S yang mengalami beberapa bentuk gangguan kesehatan mental.

Tingkat penyakit jiwa bahkan lebih tinggi untuk narapidana di penjara. Sebuah laporan dari Departemen Kehakiman A.S menemukan bahwa lebih dari separuh individu ini memiliki gangguan kesehatan mental.

Tak hanya itu, berdasarkan data statistik ada sekitar 56 persen pasien dengan penyakit jiwa di A.S. yang tidak menerima perawatan. Ada juga masalah kekurangan tenaga profesional kesehatan mental.

Faktanya, Mental Health America melaporkan bahwa di negara bagian dengan angkatan kerja terendah, hanya ada satu profesional kesehatan mental saja, termasuk psikiater, psikolog dan pekerja sosial untuk setiap 1.000 orang. Benar-benar perbandingan yang tidak seimbang, bukan?

Stigma seputar penyakit jiwa ini juga tetap menjadi masalah. American Psychological Association menyatakan bahwa hanya sekitar 25 persen orang dewasa saja yang memiliki gejala ini yang percaya bahwa orang-orang akan peduli dan bersimpati terhadap mereka.

Banyak yang berharap dan percaya bahwa dikedepannya kita bisa membangun dunia yang lebih baik lagi bagi orang-orang gangguan jiwa dengan mengikuti jejak Dix.

Pandangan terhadap seseorang yang mengalami kondisi mental yang buruk hingga saat ini masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

Mereka yang memiliki kondisi ini kerap dibuang oleh keluarganya, diolok-olok atau dijadikan sebagai bahan lelucon oleh tetangga dan masyarakat lainnya.

Jika anda juga pernah melakukan hal yang sama, maka mulai sekarang ubahlah tindakan tersebut, karena tak seharusnya mereka menerima perlakuan seperti itu. Yang harus dia terima sebenarnya adalah pengobatan dan dukungan dari orang-orang yang berada di sekitarnya, sehingga mereka sembuh dari penyakit tersebut.

Jadilah “the next Dorothea” yang tulus dan selalu membantu orang-orang yang lemah dan jangan malah menghindari dan mengabaikan mereka. Jika bukan kita yang membantu mereka, lantas siapa lagi? 

Jangan mengatakan kalau anda masih terlalu muda untuk melakukan hal yang sama seperti Dix. Dorothy yang saat masih berusia sangat muda, yaitu 19 tahun saja bisa membawa perubahan yang begitu besar untuk banyak orang dan dunia, lantas kenapa anda tidak bisa?

Anda tidak harus mendirikan rumah sakit dan sebagainya, karena pastinya dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk itu. Tapi jika anda mampu melakukannya, maka lakukan lah. Tapi kalau tidak, anda bisa mulai dari hal-hal kecil seperti tidak mengabaikan mereka. Bersediakah anda melakukannya?