Kisah Dewa Sniper Yang Membunuh Ratusan Nyawa Dalam 3 Bulan

139

Dalam militer, posisi sniper yang juga diartikan sebagai penembak jitu memegang peran sebagai pembunuh jarak jauh yang sangat mematikan. Dengan posisi yang sulit terdeteksi, seorang sniper dapat merenggut nyawa lawannya dengan leluasa. Menjadi seorang sniper handal tergolong sulit dikarenakan membutuhkan skill tinggi, kesabaran, daya tahan tubuh kuat dan sedikit keberuntungan. Di dalam sejarah militer dunia, tercatat sudah banyak sniper yang dikenal sebagai pembunuh paling wahid dan disegani. Namun, diantara mereka semua nama Simo Häyhä menyandang predikat paling berbahaya dan ditakuti. Bagaimana tidak? Hanya berbekal senjata sniper standar, dia mampu merenggut ratusan nyawa lawannya sendiri. Mengerikan bukan? Mari kita simak sepak terjangnya.

Memegang rekor membunuh paling menakutkan yaitu 705 korban

Uni Soviet menyatakan perang dengan Finlandia dan menyerangnya pada tahun 1939. Dengan cuaca bersalju yang sangat ekstrim, perang pun tidak bisa terhindarkan. Suhu diperkirakan minus 40 derajat saat itu. Simo Häyhä yang merupakan seorang tentara Finlandia dan berawal dari seorang petani dan pemburu yang telah melewati masa wajib militer 1 tahunnya memutuskan untuk membantu Finlandia dalam berperang. Dalam perang tersebut, berbekal senjata sniper standar, Simo sanggup membunuh setidaknya 505 nyawa tentara Uni Soviet seorang diri.

Dengan menggunakan senapan otomatis yang dikenal juga sebagai Suomi KP/-31, dia membunuh 200 orang dari pasukan lawan. Mengerikan dan dikarenakan berpakaian serba putih, dia dijuluki sebagai White Death yang diartikan sebagai malaikat maut serba putih. Jika ditotal sudah 705 nyawa yang tercatat hilang di tangannya dan itu yang terkonfirmasi pihak lawan. Banyak yang percaya, masih banyak korban yang tidak terhitung di dalamnya. Pastinya ini merupakan sebuah rekor yang tidak terlupakan apalagi Simo hanya melakukannya dalam kurun waktu 100 hari saja!

Fisik Simo sangat kuat dan mampu bertahan di cuaca ekstrim

Simo dikenal sebagai tentara berbadan kuat di era perang musim dingin yang dihadapinya. Rusia pun turut mengirimkan tentaranya dan melawan Filandia di tahun 1939-1940. Ketika itu senjata yang digunakan Simo masih tergolong sederhana dan jika dibandingkan dengan lawannya sangat jauh sekali. Dengan tidak memiliki lensa bidik sama sekali, senjata yang dipakai Simo layak dianggap masih primitif.

Image result for white death

Menjadi sniper di cuaca yang memiliki suhu hingga minus 40 derajat, Simo pantas menyandang julukannya yang menakutkan tersebut. Fisiknya yang sangat kuat dalam bertahan membuatnya seperti memiliki badan setebal beruang kutub. Dalam perang yang dihadapi Simo, tidak ada seorang pun dari lawannya yang menyadari keberadaannya. Dia lebih memilih untuk berdiam diri di satu tempat dan menghabisi semua lawannya seorang diri.

Satu batalion pasukan pun tidak sanggup membunuh Simo

Mendapatkan kabar tentang Finlandia yang memiliki seorang tentara sniper yang hebat, Rusia mengirim seorang penembak jitu hebat yang diyakini dapat menandingi Simo di area pertempuran. Tapi hasil yang diterima malah tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Sniper asal Rusia tersebut malah pulang tinggal mayat. Mendengar kabar buruk tersebut, komandan mereka pun mengirim kembali beberapa sniper handal mereka.

Bernasib sama, setelah keberangkatan mereka di medan tempur, kabar mereka malah tidak terdengar sama sekali. Menduga mereka juga sudah dihabisi, Rusia langsung mengirimkan satu batalion pasukannya hanya khusus untuk membunuh Simo. Dan seperti julukannya Simo, nyawa mereka tidak ada satupun yang selamat dari peluru-peluru Simo.

Teknik menyamar menjadi andalan dalam berkamuflase

Dikenal memiliki mata yang setajam elang dalam mengintai mangsanya, ternyata Simo juga menggunakan kamuflase layaknya bunglon dalam medan perangnya. Selama perang dingin, dia menggunakan pakaian serba putih dan juga topeng putih bersembunyi dalam tumpukan salju.

Hal ini memberikannya ruang yang bebas untuk tidak teridentifikasi mangsanya dan menyerang mereka. Ketika beraksi pun, Simo sangat berhati-hati. Dia bahkan memasukkan tumpukkan salju di dalam mulutnya agat uap hangat tidak nampak dari napasnya. Trik sederhana ini tergolong sangat ampuh dan membuat segala upaya musuhnya untuk menyingkarkan dirinya sia-sia.

Simo akhirnya tertembak untuk pertama kali

Ibarat pribahasa “Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Tepat tanggal 6 Maret 1940, salah dari tentara lawan berhasil mematahkan rekor Simo. Simo tertembak pada bagian mulut dan kondisinya sangat mengerikan. Ketika ditemukan oleh rekannya, sebagian bawah dari wajah Simo telah hilang.

Yang ajaibnya, pria tersebut tetap dapat bertahan hidup meski sempat koma selama 13 hari. Wajahnya harus dijahit dan mengalami cacat permanen atas dampak mengerikan yang didapatnya atas penembakkan tersebut. Ketika sadar dari koma, Simo mendapatkan kabar yang dramatis dimana Rusia telah sepakat untuk berdamai dengan negara mereka.

Simo menjadi sosok yang menginspirasi

Simo menjadi terkenal setelah perang berhenti. Banyak media yang menjumpainya untuk melakukan wawancara tentang perang. Tepat di tahun 1998, Simo ditanya mengenai apa rahasianya untuk menjadi seorang sniper hebat. Dengan santainya dia hanya menjawab “latihan”. Setelah itu, dia ditanya apakah dia menyesal telah membunuh begitu banyak orang. Dia mengaku dia hanya menjalankan tugas negara.

Dia berusaha melakukan sebaik mungkin atas tugas yang diberikan kepadanya. Sosoknya ini bahkan menginspirasi banyak pihak termasuk band metal asal Swedia, Sabaton dengan lagunya yang berjudul “White Death”. Pada tahun 2002, Simo Häyhä menutup usianya pada usia 96 tahun di rumah sakit khusus veteran perang. Di nisannya, terukir 3 kata yang dalam bahasa Finlandia. tiga kata tersebut adalah : Rumah, Agama, Ibu Pertiwi.

Itulah sepenggal kisah dari Simo Häyhä yang sanggup menumpas satu batalion seorang diri. Yang dapat kita kutip dari Simo, kemahirannya ini semua dia dapat berkat latihan yang keras. Tidak ada yang tidak bisa dalam hidup ini, karena orang yang berbakat sekalipun dapat dikalahkan oleh orang yang berjuang keras. Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua untuk tidak menyerah dan selalu percaya dengan kemampuan kita.