Alami Krisis Penduduk, Pemerintah Kota Ini Tawarkan Uang Milyaran Rupiah Untuk Penduduk Baru

1002

Kalau anda di suruh memilih apakah anda lebih senang tinggal di desa atau di kota, manakah yang akan menjadi pilihan anda? Kalau anda memilih desa, apa yang menjadi alasan anda? Dan begitu pula sebaliknya jika anda lebih memilih kota. Pasti ada kan hal yang menjadi alasan atau bahan pertimbangan anda mengapa memilih salah satunya?

Baru-baru ini sebuah kabar mengejutkan datang dari salah satu wilayah dari negara yang berada di kawasan Eropa, yaitu switzerland atau yang lebih dikenal dengan sebutan Swiss.

Seperti yang anda ketahui, swiss adalah negara yang paling damai dan memiliki banyak tempat wisata yang bisa dijadikan sebagai destinasi liburan. Salah satu tempat atau wilayah di swiss yang sempat ramai menjadi bahan perbincangan dunia adalah Albinen.

Albinen sendiri merupakan nama dari sebuah kawasan permukiman di Swiss yang sangat terkenal dengan keindahannya. Letak dari wilayah ini adalah di kaki gunung Alpen Swiss dekat Leukerbead di Valai, atau tepatnya desa ini terletak di ketinggian 1.300 meter dari permukaan laut.

Dari kabar yang terdengar, diketahui bahwa wilayah tersebut tengah mengalami krisis. Uniknya, krisis yang melanda tempat ini bukanlah krisis ekonomi seperti yang biasa terjadi di beberapa negara di dunia, melainkan krisis penduduk.

Krisis penduduk? Anda pasti bingung dan penasarankan saat mengetahui masalah yang dialami wilayah ini ternyata adalah kekurangan penduduk? Gimana caranya coba ada negara yang ternyata mengalami masalah kekurangan penduduk? Apakah yang menjadi penyebabnya? Mari kita cari jawabannya di bawah ini.

Albinen Alami Krisis Penduduk

Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, Albinen adalah sebuah wilayah yang saat ini sedang mengalami krisis penduduk yang parah. Usut-punya usut, jumlah penduduk yang tinggal di sana semakin hari semakin berkurang.

Entah apa yang menjadi faktor penyebab utama dari berkurangnya penduduk tersebut. Padahal bisa dikatakan kalau desa itu memiliki karakteristik yang sangat tenang, pemandangan atau fenomena alam yang fantastis, kualitas udara yang baik dan sinar matahari yang cukup.

Kalau dilihat dari keadaan geografisnya, aneh memang jika kota seindah albinen ini mengalamai krisis penduduk. Tapi ternyata ekspektasi tidak selalu sama dengan kenyataan yang ada.

Tapi meskipun demikian, satu hal yang pasti adalah pada tahun 2008 yang lalu, tercatat bahwa jumlah dari penduduk yang menempati wilayah ini hanya berkisar 278 jiwa saja.

Dan kini kabarnya jumlah penduduk yang tersisa dan diketahui masih tinggal di sana adalah berjumlah sekitar 240 jiwa saja. Jumlah ini lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya dan ada kemungkinan akan terus mengalami penurunan.

Dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit tersebut, wilayah ini pun menjadi salah satu daerah yang paling banyak mengalami eksodus massal dalam beberapa tahun terakhir.

Sebenarnya bukan kota Albinen saja yang mengalami kekurangan penduduk seperti ini. Di beberapa negara lainnya juga ada yang mengalami masalah yang sama, hanya saja tidak separah yang terjadi di kota yang satu ini.

Yang dimaksud dengan eksodus adalah sebuah fenomena, dimana para penduduk mulai meninggalkan tempat asal mereka (kampung halaman, kota, negeri) secara besar-besaran. Alih-alih semakin bertambah, jumlah tersebut malah semakin berkurang seiring berjalannya waktu.

Hal inilah yang saat ini menjadi pusat perhatian dari pemerintah setempat. Bayangkan saja jika jumlah tersebut semakin hari semakin berkurang, lambat laun tidak akan ada lagi orang yang mendiami wilayah atau kota itu dan kalau di biarkan terus menerus tanpa adanya penanganan, daerah ini nantinya bisa  menjadi wilayah yang tertinggal atau bahkan menjadi sebuah kota mati.

Penyebab Krisis Penduduk di Albinen

Jika di beberapa negara seperti Indonesia jumlah penduduk begitu banyak atau padat, hal yang sebaliknya justru terjadi di kota Albinen. Di Indonesia, sangking banyaknya jumlah penduduk, pemerintah sampai harus merealisasikan yang namanya program KB yang bertujuan untuk menekan angka kelahiran.

Kalau tidak begitu, laju pertumbuhan penduduknya tidak akan bisa terkontrol. Dan kalau sudah terjadi demikian, pemerintah akan mengalami banyak kesulitan atau kwalahan untuk mensejahterakan seluruh masyarakatnya, karena harus menjangkau sebegitu banyak manusia.

Hal yang berbeda malah terjadi pada salah satu kota yang berada di Swiss. Pemerintah di sana malah dibuat kwalahan dan kebingungan karena penduduknya satu persatu mulai hengkang atau meninggalkan kota tersebut karena dipicu oleh berbagai alasan, sehingga sistem pemerintahan dan perekonomian di sana pun mulai goyang. 

Meskipun desa ini hanya berjarak sekitar 6,5 kilometer saja dari kota wisata Leukerbad dan hanya memerlukan waktu sekitar 35 menit berkendara ke Sion, yaitu ibu kota Canton Valais, serta kota industri Visp, namun krisis penduduk masih tetap tidak bisa terhindarkan dan masih saja terjadi hingga saat ini.

Laporan menyebutkan bahwa depopulasi (penyusutan atau pengurangan penduduk) yang terjadi di wilayah ini disebabkan karena beberapa faktor, seperti:

  • Keinginan masyarakat yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih layak atau baik

Setiap orang pasti ingin memiliki kehidupan yang baik, bukan? Begitu pula dengan masyarakat yang tinggal di kota Albinen ini, khususnya mereka yang merupakan kalangan anak muda.

Kurangnya lapangan kerja yang tersedia di sana menjadi alasan yang kuat mengapa mereka lebih memih untuk pindah atau merantau ke kota besar lainnya. Kalau bahasa sosiologinya tindakan seperti ini disebut dengan “urbanisasi“.

  • Kondisi dan situasi kota yang semakin memburuk

Dengan menurunnya populasi di Albinen ini, sistem perekonomian desa pun mulai terganggu bahkan hampir terhenti, yang ditandai dengan semakin buruknya bisnis lokal, bahkan beberapa diantaranya terpaksa harus menutup toko mereka karena tak ada lagi pembeli untuk melakukan transaksi.

Bukan hanya itu saja, beberapa sekolah setempat juga terpaksa harus ditutup karena tidak ada kegiatan pembelajaran yang dilakukan di daerah tersebut. Yah, wajar jika banyak sekolah yang terpaksa harus tutup karena jumlah siswanya juga semakin berkurang.

Dan karena banyaknya sekolah yang ditutup, anak-anak terpaksa harus menempuh jarak yang sangat jauh jika mereka memang ingin pergi ke sekolah.

Kalau kondisinya sudah begini, anak-anak pasti mulai malas untuk pergi ke sekolah dan beberapa diantaranya akan lebih memilih pindah atau keluar dari wilayah tersebut.

Tuntutan Masyarakat Yang Masih Tinggal di Kota

Melihat masalah yang semakin memperburuk kehidupan ekonomi masyarakat Albinen tersebut, para penduduk yang tersisa di sana mulai merasa panik. Kepanikan tersebut pun akhirnya idisampaikan oleh mereka kepada dewan desa.

Penduduk setempat menuntut pemerintah untuk segera mengambil tindakan dan melakukan sesuatu untuk mengembalikan keadaan desa seperti sedia kala dan memperbaiki prospek ekonomi daerah tersebut.

Untungnya, tanpa harus menunggu untuk waktu yang lama, apa yang mereka keluhkan tersebut langsung digubris atau mendapatkan perhatian dari Pemerintah.

Tindakan Pemerintah Menangani Masalah Depopulasi di Swiss

Di seluruh dunia, disforia demografi tampaknya mulai terbentuk di beberapa wilayah. Yang dimaksud dengan disforia demografi adalah suatu keadaan yang tidak tenang yang diakibatkan oleh masalah kependudukan.

Situasi ini membuat pemerintah setempat menjadi kalang kabut, gelisah dan dibuat pusing tujuh keliling karena harus mencari cara untuk mengatasinya.

Dan karena masalah tersebut juga lah pemerintah harus sibuk mencari langkah kreatif, untuk bisa meningkatkan pertumbuhan penduduk dan memberikan ekonomi yang berkelanjutan kepada masyarakatnya.

Khsusnya di Eropa, dalam satu dekade ini, kebijakan moneter yang berlebihan yang ditambah dengan masuknya jumlah pengungsi secara besar-besaran ternyata belum mampu membalikkan pertumbuhan populasi yang negatif yang telah terjadi.

Hal ini pertama kali terlihat pada tahun 2012 yang lewat. Dan salah satu wilayah yang di Eropa yang terimbas masalah ini adalah Albinen, Swiss.

Untuk mengatasi masalah kependudukan yang terjadi di wilayah ini, serta untuk menghindari keruntuhan ekonomi lokal yang ada di sana, pemerintah setempat akhirnya mengeluarkan sebuah kebijakan, dengan menawarkan uang sebesar 70.000 Franc (71.467 dolar AS) atau setara dengan Rp. 964.283.850 kepada keluarga (terdiri dari 4 orang anggota keluarga) yang usianya di bawah usia 45 tahun untuk pindah dan tinggal selama 10 tahun di kota Albinen.

Tak tanggung-tanggung lho guys nominal uang yang ditawarkan oleh Pemerintah wilayah tersebut. Bayangkan saja, jika di rupiahkan jumlah uang itu hampir mendekati nilai 1M alias Milyar, cuy. Siapa coba yang nggak mau di kasih uang sebanyak itu secara cuma-cuma. Betul nggak?

Dewan komunal telah menerima inisiatif tersebut dan telah menyusun sebuah peraturan sebelum memberikan bantuan keuangan kepada siapa saja keluarga yang memang bersedia untuk mendepositokan surat-suratnya (dokumen) di Albinen.

Aturan Penerimaan Uang

Jumlah yang direncanakan adalah 25.000 franc per orang untuk orang dewasa dan 10.000 franc per anak. Jadi dengan begitu, sebuah keluarga dengan empat orang anggota akan menerima total uang sebesar 70.000 franc. Pembiayaan operasi akan melalui penciptaan dana dimana pemerintah kota kabarnya akan membayar 100.000 franc setiap tahunnya.

Tawaran itu, bagaimanapun memiliki peraturan yang cukup ketat, mengingat jumlah uang yang diberikan tidaklah kecil. Seperti yang disebutkan sebelumnya di atas tadi, pihak yang berkepentingan haruslah berusia di bawah 45 tahun. Mereka harus membuat komitmen untuk tinggal setidaknya sepuluh tahun di komune, sesuai dengan ketentuan presiden.

Pembuatan peraturan seperti ini tentu saja telah melewati pertimbangan terlebih dulu. Pasti ada alasan mengapa pemerintah menetapkan peraturan semacam itu.

Adapun jumlah minimum investasi mereka ditetapkan sebesar 200.000 franc. Albinen harus dijadikan sebagai rumah utama mereka. Kompleks real estat dari kelompok investor dikecualikan dari tawaran tersebut.

Sebagai catatan, jumlah uang yang diberikan bakal diperlakukan seperti investasi yang terikat dengan perencanaan dari pemerintah Albinen.

Calon penduduk baru harus membeli rumah di Albinen terlebih dahulu. Dan jika warga baru tersebut pindah ke luar kota dalam kurun waktu 10 tahun, maka pembayaran yang diberikan oleh pemerintah tadinya haruslah dikembalikan lagi.

Dalam waktu dekat, keluarga yang berminat bisa segera mengajukan surat aplikasi kepada pemerintah Albinen. Meskipun imbalan yang diberikan masih terikat syarat dan ketentuan, diharapkan kebijakan ini tetap bisa menarik minat banyak orang.

Selain itu, Albinen juga menawarkan pemandangan yang indah dari pegunungan bersalju, udara yang bersih dan pemukiman yang bebas dari kebisingan. Tentu saja pindah ke tempat ini bukanlah tawaran yang buruk.

Tujuan Pemberian Uang

Seperti yang anda ketahui, pada dasarnya kebijakan itu dibuat dengan maksud atau tujuan tertentu. Begitu juga dengan keputusan pemberian uang kepada warga baru yang bersedia untuk tinggal di wilayah Albinen, Swiss ini.

Langkah atau kebijakan tersebut merupakan sebuah investasi untuk masa depan desa. Daerah itu akan mendapatkan keuntungan dari keluarga baru yang akan tinggal di sana dari pembayaran pajak, kontrak kontruksi dan pembelian yang dilakukan di toko-toko yang ada di dalam desa.

Sementara itu, kaum mudanya akan membawa kehidupan kembali ke desa yang telah sempat “kehilangan nyawanya”. Jika hal ini bisa berlangsung dengan baik dan sesuai dengan harapan, sekolah-sekolah yang tadinya sudah ditutup kemungkinan akan segera dibuka kembali.

Thomas Egger, yang merupakan direktur Asosiasi Pegunungan untuk Wilayah Pegunungan Swiss (SAB) mengatakan, “Eksodus pedesaan adalah fenomena berbahaya yang terjadi dalam beberapa dekade ini.

Penutupan sebuah kantor pos bukanlah satu-satunya sinyal peringatan, tapi ketika toko dan juga beberapa restoran yang di sana mulai tutup, serta dokter tidak lagi mendapat kunjungan, situasinya pun berubah menjadi semakin dramatis “.

Selama bertahun-tahun, banyak kota yang berada di sekitar daerah pegunungan yang telah menerapkan langkah-langkah kreatif untuk menarik penghuni baru untuk tinggal dan menetap di sana dan salah satunya adalah dengan memberi uang.

Beberapa tempat atau wilayah bahkan telah menawarkan potongan harga untuk pembelian tanah atau perumahan. Dan ada juga yang menawarkan transportasi umum atau bahkan diskon barang dan layanan kepada penghuni baru.

Semua hal itu dilakukan hanya untuk menarik minat orang-orang agar mau tinggal di wilayah atau tempat tersebut.

Dalam sebuah jajak pendapat, yang terdapat pada koran Swiss menanyakan sebuah pertanyaan seputar tawaran untuk menjadi warga Albinen, yaitu: “Maukah dan siapkah anda untuk tinggal di Albinen dengan 70.000 franc?

Dan terjadi hal yang mengejutkan dengan jawaban yang didapat dari pertanyaan tersebut, karena ternyata respons yang paling besar dari 3.257 peserta adalah jawaban “Tidak Mau” atau “No” seperti yang bisa anda lihat pada tabel yang dimuat di bawah ini.

Dari tabel di atas, anda bisa melihat bahwa jumlah orang yang mengatakan “bersedia untuk pindah” adalah yang paling kecil atau sedikit, yaitu hanya sekitar 17 persen saja.

Mereka pasti memiliki alasan tersendiri mengapa harus memilih opsi tersebut. Mungkin saja karena tempat kerja mereka terlalu jauh dengan rumah dan bisa jadi ada alasan yang lainnya juga.

Menawarkan uang tunai untuk orang luar yang mau tinggal di komunitas seperti ini bisa dikatakan merupakan bentuk tindakan putus asa dan menunjukkan bahwa di belahan bumi bagian barat ternyata penuh dengan disforia demografis.

Kalau dilihat-lihat sih, kelihatannya tawaran ini tidak akan berlangsung lama, atau hanya menunggu masalah waktu saja sebelum akhirnya kota atau daerah yang lebih besar menawarkan hal yang sama kepada masyarakat.

Tapi biarpun begitu, tawaran seperti ini sepertinya akan sangat berguna di Amerika Serikat untuk kota-kota seperti Baltimore dan Detroit yang jumlah penduduknya mencapai rekor terendah.

Negara Lain Yang Melakukan Hal Serupa

Kabar mengenai krisis penduduk ternyata tidak hanya datang dari kota albinen saja, melainkan juga datang dari kota Candela yang berada di Italia.

Dikabarkan hampir mati karena semakin berkurangnya jumlah penduduk yang tinggal di sana, kota ini juga bersedia membayar siapa saja yang bersedia untuk pindah ke sana.

Kota Candele di Italia ini sebenarnya masuk ke dalam kategori kota yang cantik dan menarik dengan julukan Napoli kecil. Namun sayangnya, karena termasuk kota tua, para penduduknya secara perlahan mulai meninggalkan Candele.

Makin hari, Candela makin terlihat seperti kota hantu yang tak lagi berpenghuni. Anak muda yang awalnya tinggal di sana memutuskan untuk pergi keluar kota untuk bekerja, sementara para orang tua ditinggalkan begitu saja.

Dulunya kota ini memiliki sekitar 8.000 penduduk. Tapi sekarang hanya tersisa sebanyak 2.700 penduduk saja. Penurunan yang sangat drastis kan guys? Karena itu, Walikota Nicola Gatta akhirnya membuat penawaran yang menarik untuk menghidupkan kembali kota ini.

Kota Candela bersedia untuk membayar siapa saja yang ingin pindah dan menetap di sana. Bukan hanya untuk warga Italia, para turis juga diberi kesempatan untuk tinggal dan menetap di Kota Candela tersebut.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah akan membayar mereka sebesar 2000 Euro atau sekitar Rp. 31 juta. Kredit pajak untuk pembangunan limbah kota, tagihan dan pembibitan juga bisa ditawarkan.

Sampai tahun 1960-an, pelancong menyebutnya ‘Nap’licchie’ (Napoli Kecil), jalanan dipenuh dengan para musafir, turis, pedagang dan pedagang yang terus berteriak,” ujar Gatta kepada CNN.

Ada beberapa keuntungan yang juga ditawarkan oleh Candela kepada mereka yang tinggal di sana. Kota ini berada di persimpangan 3 kota cantik Italia yaitu, Campania, Basilicata dan Molise.

Kota Candela tidak memiliki banyak penduduk, suasananya tenang dan tanpa polusi. Bahkan kota ini tidak memiliki satu pun catatan kriminal selama 20 tahun terakhir ini.

Anda yang mau pindah ke kota ini akan ditawarkan bayaran tergantung dari jumlah keluarga. Untuk traveler yang single akan dibayar senilai 800 Euro atau sekitar Rp. 12 juta, pasangan akan ditawarkan 1.200 Euro atau sekitar Rp. 19 juta, tiga anggota keluarga akan ditawarkan 1500 sampai 1.800 Euro atau sekitar Rp. 23 juta sampai Rp. 28 juta dan keluarga dengan empat sampai lima orang anggota akan ditawarkan lebih dari 2.000 Euro atau sekitar Rp. 31 juta.

Wow, sepertinya adalah yang paling tepat untuk harga-harga fantastis yang ditawarkan secara cuma-cuma kepada para penduduk baru yang mau tinggal di kedua kota ini. Anda sendiri gimana? Tidak tertarikkah dengan tawaran di atas? Kalau anda tertarik, jangan lupa anda harus mengurus dokumen-dokumennya terlebih dahulu ya guys.

Demikianlah informasi ini kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat untuk anda.