Mengenal Lebih Dalam Tentang Samurai

1334

Bagi kamu anak tahun 90-an tentu sudah tidak asing lagi dengan film kartun Samurai Deeper Kyo. Seorang samurai klan mibu berbaju kimono yang memiliki kepribadian ganda di dalam dirinya. Setiap Kyo mengibaskan pedangnya, maka musuh sekitarnya akan jatuh bersimbah darah. Sangking cepatnya bahkan, senjata pun bukan tandingan untuk samurai ini. Tidak ada peluru yang dapat menembus dirinya ketika dia mengayunkan pedang iblisnya tersebut. Sungguh seru bukan?

Nah, sebenarnya  manga asal Jepang karya Akimine Kamijyo  ini digarap dengan asal-asalan tanpa sebuahnya sejarah yang jelas. Samurai aslinya memang berasal dari kehidupan orang Jepang pada zaman dahulu. Kalau orang zaman dahulu sudah melihat orang yang menenteng pedang di luar sih, udah bakalan ketebak itu siapa. Samurai ya? Bukan itu tukang cukur lagi konvoi. Jelas samurai dong itu! Nah, ngomong-ngomong kamu tahu gak zaman samurai itu ada mulai dari kapan? Penasaran?

Sejarah Munculnya Samurai

Samurai mulai dikenal pada tahun 710 SM di masa periode Heian dalam kampenye khusus pada zaman Kekaisaran. Pajak berat yang diterapkan Kaisar memaksa para petani kecil dan rakyat miskin  bergabung untuk melakukan pemberontakkan dimana-mana. Dikarenakan penjarahan tersebut memaksa para pemilik tanah pribadi untuk mempersenjatai para keluarganya termasuk para petani. Kondisi ini yang memcunculka adanya kelas militer yang dikenal dengan samurai.

Panglima perang yang dikenal juga sebagai Kelompok Toryo, dikuasai oleh Keluarga Minamoto dan Taira, muncul menjadi pemenang dalam pemberontakkan tersebut. Bagian Barat dan Timur menjadi kekuasaan bagi pemilik garis keturunan darah tersebut. Keluarga Fujiwara yang menjadi pemerintah pusat tidak dapat mengatasi gejolak ini. Dampak tersebut sebagai awal berakhirnya kaum bangsawan.

Kaisar Gonjo yang terkenal dengan keluarga anti-Fujiwara merencanakan perebutan kekuasaan yang kekuasaan politiknya dipusatkan pada o-tera. Kaisar Shirakawa yang menjadi pengganti Gonjo melanjutkan visinya dengan menjadika o-tera sebagai markas dari politiknya. Dengan kelihaiannya, dia membuat o-tera sebagai fungsi politik dan keagamaan.

Tentara untuk mengawal o-tera pun dia bentuk, termasuk memberi sumbangan tanah pada kelompok tersebut. Dengan begitu, o-tera pun dianggap telah mejadi sebuah “negara” di dalam negara. Dampaknya, kelompok dari kaisar yang anti akan o-tera mengadakan perlawanan untuk melawan kelompok dari Minamoto dan Taira yang sedang berperang.

Pertikaian ini dilatarbelakangi dengan kericuhan yang terjadi dalam memperebutkan tahta antara Fujiwara dan kaisar yang pro maupun kotra terhadap o-tera. Perang pun terjadi antara Minamoto yang berpihak pada o-tera. Sedangkan untuk Taira, mereka memihak pada istana. Pertempuran besar ini terbagi menjadi dua yaitu Perang Hogen (1156) dan Perang Heiji (1159). Perang pun dimenangkan oleh kelompok Taira yang ditandai dengan perubahan struktur yang besar dalam kekuasaan politik. Samurai pun dijadikan sebagai kekuatan penyeimbang politik di istana

Senjata Samurai

Sebagai peyeimbang dan memiliki kasta paling tinggi di Jepang, para samurai dibekali dengan berbagai senjata untuk melindungi dirinya. Senjata paling terkenal samurai adalah Pedang, meski tombak dan panah juga dapat menjadi senjata mereka disaat bertarung.

Jenis dari pedang Samurai terbagi atas banyak tipe. Semua itu didasarkan kepada panjang dan tipe bilahnya serta fungsinya masing-masing. Panjang dari bilah diukur berdasarkan ukuran “shaku” dimana satu shaku adalah 30 cm.

Berikut adalah beberapa senjata samurai:

1.Katana

Pedang paling terkenal di dunia. Pedang dengan ukuran 70-80 cm ini  dibawa oleh kaum samurai untuk mempresentasikan derajatnya. Pedang ini juga berguna untuk melakukan aktivitas sumpah darah. Katana dibuat dengan upacara keagamaan yang sakral. Pedang ini juga menjadi senjata incaran para ninja wanita ketika berkamuflase.

2.Nodachi

Pedang berukuran panjang yang berguna untuk menusuk pasukan berkuda. Karena kepanjangannya, pedang ini hanya dipakai ketika pertempuran jarak jauh. Termasuk pedang yang sangat langka karena tingkat pembuatannya memerlukan teknik khusus yang tinggi.

3.Tachi

Mirip dengan Nodachi yakni digunakan untuk pertempuran jarak jauh. Bedanya pedang ini malah terbalik digunakan ketika berkuda untuk menebas musuh yang berjalan kaki disekitarnya.

4.Wakizashi

Senjata yang berukuran setengah meter ini menjadi senjata cadangan seandainya samurai tidak membawa pedang utamanya. Hal ini dikarenakan pada zaman dulu, samurai diwajibkan untuk meninggalkan pedangnya kepada pengawal saat memasuki bangunan suci atau istana. Pedang ini akan berguna untuk memproteksi diri seandainya adanya serangan mendadak.

5.Tanto

Senjata pisau yang cukup panjang yakni 25 cm. Tanto berguna untuk membunuh lawan secara tiba-tiba. Pisau ini juga banyak yang dibawa oleh para wanita bangsawan yang disembunyikan pada ikat pinggang kimono untuk perlindungan.

6.Naginata

Senjata tombak dengan mata pisau berukuran kecil yang melengkung dengan panjang 60 cm yang digunakan untuk pertarungan jarak menengah.

7.Chokuto

Pedang yang memiliki panjang hampir sama dengan Katana, bedanya tidak melengkung. Pedang ini dipakai saat orang Jepang belum menemukan teknik untuk melengkungkan pedang. Walaupun pedang ini sudah jarang digunakan, tetapi pedang ini masih dibuat untuk dipakai dalam upacara-upacara sakral tertentu.

Teknik Pertempuran Samurai

Meskipun Samurai begitu identik dengan pedang, namun sejarah Jepang mencatat suatu hal yang unik. Apa itu? Ternyata ketika bertempur, para samurai lebih memilih menyerang jarak jauh dengan menggunakan busur dan panah daripada menggunakan samurainya. Senjata ini menjadi senjata paling ampuh untuk menyeramg lawan tanpa harus membahayakan dirinya sendiri.

Seorang samurai akan dilatih untuk mahir berkuda dan juga memanah selain berperang menggunakan pedang. Bagi mereka, panahan dan berkuda akan membuat diri mereka menjadi kesatria yang ideal. Kaum samurai yang mahir memanah dipanggil sebagai kaum bushi menjadi kaum yang paling ditakuti pada zamannya.

Ketika bertempur, mereka mampu menyerang lawannya dengan mudah dan juga menghampirinya. Biasanya para samurai tersebut akan menghujani mereka dengan panah sambil mendekatinya dan memancing mereka untuk mengejarnya. Begitu terpancing, para samurai akan menghabisi lawan-lawannya yang tidak berpelindung dan telah kehabisan tenaga dengan panah-panah andalan mereka. Sesuai pepatah kuno bahwa seorang pelari terbaik pun tidak akan mampu mengejar seekor kuda, bahkan pemain tombak dan pedang terbaik pun tidak bisa bergerak lebih cepat daripada anak panah.

Cara terbaik untuk menghadapinya hanya juga dengan berkuda. Jika sudah sama-sama berkuda maka pemenang hanya akan didapatkan dari hasil duel panahan. Kekalahan perang akan dinyatakan dari pihak yang kehilangan pasukan berkudanya. Ini dikarenakan tanpa pasukan berkudanya, sisa pasukan yang tidak berkuda hanya akan menjadi korban panahan dari para Samurai tanpa bisa membalasnya. Untuk mundur pun tidak akan bisa karena mereka tetap akan dikejar dan ditembaki oleh samurai berpanah.

Kalau anak panah sudah habis, maka samurai berkuda ini akan lebih memilih  tombak daripada pedang katana. Alasannya karena tombak menghasilkan serangan yang lebih besar dikarenakan kekuatan dalam penggunaan tombak memerlukan dua tangan. Panjang dari tombak memberikan area kontrol yang besar untuk menghalau musuh yang bergerak mendekat.

Ketika pertempuran, pedang hanya akan menjadi opsi terakhir sebagai senjata seandainya senjata lain sudah rusak atau ada lawan yang sudah berhasil mendekat sehingga tombak menjadi kurang efektif lagi. Pedang dinilai sebagai sebuah senjata darurat yang situasional ketika terdesak dan kegunaannya juga terbatas sehingga dalam pertempuran belum tentu digunakan.Pedang Katana lebih diutamakan sebagi simbol dari kehormatan mereka.

Well, seorang samurai juga sangat menekankan dirinya pada kehormatan, kepatuhan, dan loyalitas yang membedakan mereka dari lapisan masyarakat lainnya. Semua itu mereka tekankan pada tradisi harkiri dimana mereka lebih memilih bunuh diri  ketika kalah daripada harus hidup dengan menanggung malu. Sungguh pilihan yang mengerikan bukan? Meskipun terdengar konyol bagi kita karena mensia-siakan kehidupan mereka, namun bagi mereka hal itulah yang dapat mensucikan nama mereka sebagai seorang “samurai“.