Kisah Soekarno Menangis Ketika Sahabatnya Dihukum Mati

341

Roso Daras telah menuangkan sebuah karya tulisan yang berjudul Bung Karno vs Kartosuwiryo, menceritakan tentang sebuah serpihan sejarah yang tercecer antara pertemanan Soekarno dengan Kartosuwiryo. Bung Karno dan Kartosuwiryo adalah sepasang sahabat karib yang tidak dapat terpisahkan dan sama-sama berguru kepada Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Mereka berdua menimba ilmu di kawasan Peneleh, Surabaya.

Nasihat Yang Membuat Bung Karno Belajar Berpidato

Awal kisah pun dimulai dari pesan guru mereka, Tjokroaminoto, yang mengatakan “Jika ingin menjadi seorang pemimpin besar, menulislah layaknya seorang wartawan, dan berbicaralah seperti orator”. Pesan inilah yang memicu Soekarno hingga membuat dirinya belajar untuk berpidato setiap malamnya. Soekarno selalu menggelegarkan suaranya yang lantang ketika belajar berpidato di depan sebuah cermin. Tidak jarang, teman-temannya yang juga tinggal di rumah Tjokroaminoto merasa terganggu. Bahkan beberapa dari mereka, mengejek dan menertawainya.

Kawan-kawan yang lebih senior dari Soekarno kerap kali memintanya untuk berhenti karena merasa terganggu dengan pidatonya. Akan tetapi, Soekarno tetap melanjutkan pidatonya di dalam kamarnya yang gelap. Diantara semua teman-temannya, Kartosuwiryo merupakan orang yang tidak pernah lelah dalam mengomentari pidato-pidato dari Soekarno. Terkadang ejekan pun dilontarkannya untuk Soekarno seperti “Hei Karno, buat apa berpidato di depan kaca? Seperti orang gila saja,” di suatu saat Soekarno tengah belajar berpidato.

Mendengar komentar tersebut, Soekarno tetap melanjutkan pidatonya tanpa membalasnya. Setelah siap belajar pidatonya, dia baru membalas ejekan temannya itu. Ucapan pertamanya adalah penjelasan mengenai arti pidatonya dalam persiapan untuk menjadi orang besar. Ucapan selanjutnya, Soekarno mengejek Kartosuwiryo yaitu “Tidak seperti kamu, sudah kurus, kecil, pendek, keriting, mana bisa jadi orang besar!” dibarengi tertawa keduanya.

Terjadinya Perbedaan Paham Antara Soekarno dan Kartosuwiryo

Seiring pengejekan yang sering dilontarkan antar kedua sahabat ini, mereka berdua pun tumbuh dewasa di rumah Tjokroaminoto. Impian yang sangat diidamkan Soekarno pun terwujud. Dengan meletusnya pemberontakkan dari pihak komunis pada tahun 1926-1927, memberikan jalan bagi Soekarno untuk mendirikan partai politik yang bercorak nasionalis.

Disisi lain Kartosuwiryo terus berjuang bersama Tjokroaminoto. Dia bahkan diangkat menjadi sekertaris pribadi gurunya tersebut. Kartosuwiryo lebih memilih Islam sebagai ideologi perjuangannya. Buku-buku marxisme yang dibacanya tidak memperngaruhi dirinya sama sekali yang berbeda dengan teman-temannya yang lain. Malahan ideologi Islamnya semakin kuat untuk dipejuangkan dirinya bersama gurunya. Dengan penyerapan tentang marxisme sebagai pisau analisa, pemikiran Kartosoewirjo tentang kapitalisme semakin tajam. Karirnya pun terus melonjak.

Perpecahan pun terjadi setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945. Kekuatan lain mulai melakukan tarik menarik Republik, diantaranya yaitu negara Uni Belanda, negara komunis, dan negara Islam.

Soekarno Menyerap Banyak Ideologi

Berbeda dengan sahabatnya, Soekarno menyerap banyak ideologi dalam pemahamannya. Mulai dari marxis, Alquran dan Islam, serta kitab lainnya tidak ingin Indonesia menjadi negara Uni Belanda, komunis, dan berazaskan Islam. Soekarno pun menawarkan azas Pancasila. Baginya, Pancasila merupakan ideologi yang tumbuh dari bumi pertiwi, intelektual, sesuai dengan pergulatan batin dan budaya semua luhur bangsa. Usulan Pancasila ini sudah disampaikan dirinya sebelumnya dalam pidato 1 Juni 1945.

Perlawanan hebat pun terjadi dimulai dari pihak komunis yang bernamakan kelompok Muso di tahun 1948 yang memproklamirkan Negara Madiun sebagai poros dari Soviet. Peristiwa hebat yang dikenal sebagai Pemberontakkan Madiun dengan mudah ditumpas oleh Pemerintah Republik. Perlawanan selanjutnya datand dari sahabatnya sendiri, ketika diproklamasikannya Negara Islam Indonesia (NII), di Tasikmalaya, pada 7 Agustus 1949. Pemberontakkan ini cepat menyebar hingga ke Aceh, Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa.

Penangkapan Kartosuwiryo

Pemberontakkan ini pun harus berakhir karena Kartosuwiryo berhasil ditangkap oleh pasukan TNI di Gunung Geber, Jawa Barat, pada 4 Juni 1962. Dia pun harus dijatuhi hukuman mati karena pemberontakkan ini. Yang menyedihkannya, hukuman mati ini akan dilaksanakan ketika Soekarno menandatanganinya. Dalam diri Soekarno sempat terjadi pergolakan hebat dimana dia merasa harus membunuh sahabat karibnya sendiri, saudara seperguruan, dan teman seperjuangannya.

Proses eksekusi ini pun sempat tertunda selama tiga bulan disebabkan Soekarno selalu menyingkirkan berkas kertas eksekusi mati terhadap Kartosuwiryo yang dimana berkas itu selalu diletakkan di atas meja kerjanya. Frustasi semakin menghantui Soekarno hingga dia melempar kertas tersebut ke udara dan membiarkannya tercecer di lantai ruang tempat bekerjanya.

Putrinya, Megawati Soekarnoputri lah yang menyadarkan sang ayah. Megawati menggambarkan luhurnya hakikat dari pertemanan sejati, namun kembali mengingatkan ayahnya untuk menetapi dharmanya sebagai kepala negara dan tidak mencampur adukkan antara tugas dan persahabatan.

Eksekusi Kartosuwiryo Akhirnya Disetujui

Akhirnya, pada September 1962, Soekarno pun menggoreskan tanda tangannya di atas berkas vonis tersebut setelah lama termenung di meja kerjanya. Seketika, dia mengingat hari-hari dimana dia bersama Kartosuwiryo. Teringat canda dan tawa, dimana terjadinya diskusi tentang politik, agama, kebangsaan dan apa saja yang menyangkut kebersamaan mereka dimasa lalu.

Soekarno mengambil selembar foto Kartosuwiryo, dan menatapnya tanpa berkedip sambil berlinang air mata. Sambil menatap foto sahabatnya tersebut, Soekarno tersenyum dan berkata “Sorot matanya masih tetap. Sorot matanya masih sama. Sorot matanya masih menyinarkan sorot mata seorang pejuang.”

Soekarno menangis di depan Mayjen S Parman (Asisten I/Menpangad) di satu pagi pada tahun 1962 ketika dia datang membawa surat keputusan eksekusi mati pada Kartosuwiryo. Hukuman mati akhirnya dilakukan untuk Kartosuwiryo pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Setelah proses hukuman mati selesai, jenajah Kartosuwiryo disholatkan dan dimakamkan di tempat tersebut.