Kisah Kumari, Dewi Berwujud Manusia Yang Sangat Disembah Di Nepal

584

Sering mendengar kata Dewi kan? Yap, Dewi untuk umat tertentu yang mempercayainya merupakan sesosok yang sangat disembah. Selama ini yang kita tahu wujud dari seorang Dewi itu hanya diproyeksikan pada sebuah lukisan ataupun patung. Tapi bagaimana jika dewi tersebut asli dalam berwujud manusia? Pernah lihat gak? Pernah dong min, tuh temanku namanya Dewi! Bukan Dewi teman lu itu bro and sis! Ini Betulan Dewi loh yang dipercaya sudah sebagai Living Goddess. Udah deh, daripada kalian terheran-heran, simak aja di bawah ini yuks!

Nepal, tempat lahirnya Dewi Kumari

Bagi warga Nepal, Dewi juga merupakan sebuah sosok suci yang disembah dan dihormati. Berbeda dengan yang lainnya, bagi mereka sosok Dewi benar terlahir ke dunia ini dan dititipkan pada jiwa seorang anak perempuan yang baru lahir. Dewi Kumati sudah diangkat untk seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 3 sampai 5 tahun. Usia ini semua tergantung pada suratan takdir ketika menemukannya.

Dewi Kumari sangat disembah oleh seluruh warga negara di Nepal. Mereka bahkan mengharuskan seorang raja untuk mendapatkan restu dari Dewi Kumari dulu agar kekuasaannya dapat dianggap sah oleh rakyat Nepal. Jabatan dari Dewi Kumari tidak berlangsung hingga penghujung usianya. Setelah ‘anak perempuan’ tersebut mendapatkan haid pertama, maka Dewi Kumari selanjutnya harus segera diangkat agar posisi tesebut tidak ada kosong nantinya.

Sejarah singkat Dewi Kumari

Awal mula terjadinya proses ini dimulai dari raja terakhir Dinasti Malla yang telah berjaya hingga 12-17. raja dengan nama Jayaprakash Malla sering mengadakan pertemuan diam-diam dengan Dewi Taleju. Istri dari raja yang sudah mulai mencurigai gerak gerik dari suaminya ini pun diam-diam mulai membuntuti suaminya hingga menuju kamar rahasiannya. Istrinya yang tidak menahu soal kerahasiaan ini pun mengebrek pertemuan mereka.

Sang Dewi marah bukan kepalang pada raja dan juga istrinya karena keberadaaan rahasianya. Dewi tersebut pun tidak mau menemui raja lagi dan memberikannya sebuah syarat jika mau menemuinya dan ingin kerajaannya terjaga, maka dia harus menari sosok dirinya lewat reinkarnasinya yang dia tempati. Sosok tersebutlah yang dikenal sebagai Dewi Kumari dimana dianggap sebagai penjaga Kathmandhu.

Image result for Ramesh Bajracharya kumari

Dewi tersebut juga menambahkan anak yang menjadi pilihannya tidak boleh menapakkan kakinya pada bumi dan harus digendong terus menerus agar kemurnian dan kekuatannya tidak hilang. Dewi Kumari juga hanya boleh duduk dan menunggu umatnya untuk mengambil berkah dari dalam dirinya. Dia juga tidak boleh berkomunikasi dengan sapapun kecuali kepala kuil yang memilihnya dan juga keluarga terdekatnya.

Dewi Kumari dipilih harus sesuai dengan penilaian 32 sisi

Dewi Kumari tidak asal dipilih dan harus disesuaikan berdasarkan 32 sisi kesempurnaan dari fisik yang ada pada manusia tersebut. Melalui ritual khusus yang telah dilakukan oleh pemuka agama di kuil suci, mereka akan mulai membacakan keseluruhan penilaian tersebut berdasarkan Battis Lakhshanas.

Tentang Pemilihan anak perempuan dikarenakan anak-anaklah yang melambangkan sisi murni dari Dewi dan dikarenakan tidak mengalami menstruasi. Semua rakyat Nepal yang beragama Hindu dan juga Buddha telah lama menjaga tradisi ini hingga sekarang.

Dewi Kumari masa sekarang

Ayah dari Dewi Kumari masa sekarang adalah Ramesh Bajracharya mengakui tidak pernah menyangka dalam hidupnya bahwa putrinya akan diangkat menjadi Kumari.

“Saya sangat tidak menyangka hal ini ditakdirkan begitu saja di dalam keluarga saya. Hal yang paling tidak saya inginkan adalah di usia semuda itu dia hanya boleh duduk diam di dalam kuil dan tidak diijinkan kemana-mana. Saya selalu berharap setelah lepas dari posisi Kuamri nantinya dia dapat kembali beradaptasi dengan kehidupan sosialnyta” Ucap Ramesh Bajracharya.

Bagi Ramesh, sangatlah berat mendapati takdir dimana dia harus melihat anaknya yang tidak boleh menapakkan kaki di Bumi untuk usia yang masih sangat dini. Namun mengesampingkan hal yang yang dai tidak harap itu, Ramesh telah membekali anaknya pendidikan sekolah formal dan mengajari anaknya untuk bermain biola untuk mengisi waktu luangnya.

Kakak dari Dewi Kumari masa sekarang, Bipsa Bajracharya mengaku adiknya tetap bahagia dengan caranya tersendiri sebagai seorang anak-anak.

“Dia suka dengan buku betema princess. Dia juga menyukai eyeliner, bunga dan sejak kecil sudah menyukai cerita tentang dewa. Akulah yang menjadi meidasinya untuk berinteraksi dengan dunia luar karena keterbatasan yang dimiliki adikku untuk bergaul dengan dunia luar.” Kata Bipsa

Dewi Kumari hanya dapat keluar dari kuil sekali dalam setahun dan itupun pada saat festival Bhoto Jatra. Perayaan tersebut untuk mensyukuri nikmat yang datang akan datangnya musim hujan dan panen. Ketika festival berlangsung, semua orang harus berdiri di pinggir jalan dan berlutut. Dewi Kumari akan berada di dalam tandu emas dan digotong oleh pengawal khusus.

Well, itulah cerita tentang Dewi Kumari yang tetap ada sampai sekarang. Meskipun ada yang menentang tentang adanya sistem Kumari tersebut karena dianggap telah mengoksploitasi anak kecil di usia dini, pemerintah Nepal tetap melestarikan hal ini dikarenakan dengan mayoritas agama yang ada dalam negara mereka. Sangatlah menyedihkan karena anak usia 3 tahun harus duduk di anteng sepanjang hari tanpa dapat menikmati masa bermainnya. Pastinya akan sangat sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ada disekitarnya setelah ‘pensiun’ dari jabatan Kumari.