Kengerian Dari Perang Parit

4313

Perang parit adalah pertempuran yang dilakukan kedua kubu dengan posisi bertahan dalam menempati parit-parit.

Jenis perang ini bertujuan untuk mempertahankan posisi bertahan meskipun sering memberikan kemajuan yang lambat. Kedua belah pihak akan saling berusaha untuk menguasai parit lawan untuk memberikan keunggulan ofensif. Perang brutal ini sudah terkenal saat Perang Dunia I yang berlangsung selama 4 tahun yakni tahun 1914-1918.

Terdapat beberapa faktor yang memunculkan adanya perang parit. Hal pertama dikarenakan kemajuan yang pesat dalam persenjataan balistik yang membuat serangan frontal sulit untuk dilakukan. Kedua, peningkatan akurasi dari senjata dan kemampuan artileri memberikan serangan langsung yang dapat menjadi serangan bunuh diri. Kondisi ini lantas membuat pendekatan defensif dalam perang parit.

Strategi Perang Parit

Perang ini lebih condong ke arah bertahan. Ini dibuktikan dengan pembangunan pertahanan berupa galian tanah yang cukup dalam dengan memanjang dan paralel. Pada garis depan dipasang barikade berupa kawat. Dengan bersembunyi dalam parit, mereka akan menembaki musuh yang bergerak mendekat. Senjata yang dipakai dalam perang parit adalah senapan, pistol, granat dan juga senapan mesin. Apabila musuh sudah masuk ke dalam parit, mereka akan melakukan pertempuran jarak dekat dengan bayonet. Bayonet merupakan sekop yang telah dipertajam pada bagian ujungnya.

Penerapan

Perang parit pernah diterapkan pada Perang Dunia I. Perang parit yang terkenal saat itu adalah Perang Somme yang terjadi pada tahun 1916. Perang jenis ini ternyata tidak memberikan dampak yang efektif dan efisien. Kubu pemenang dari perang ini pun harus mengorbankan prajuritnya dalam jumlah yang besar yakni ±120.000 orang dan hanya dapat memajukan garis batas sejauh 5 km. Perang Somme bahkan memakan waktu yang cukup lama yaitu 5 bulan.

Perang parit menjadi taktik utama dalam Perang Dunia I. Selama beberapa tahun, dapat dikatakan parit-parit ini menjadi tempat tinggal bagi para serdadu. Kehidupan yang dirasakan pun sangat sulit. Ancaman demi ancaman terus meneror para serdadu yang bersembunyi dalam parit. Mereka tidak akan pernah lepas dari ketakutan serta ketegangan yang luar biasa. Mayat teman mereka yang tewas pun terpaksa harus dibiarkan di tempat-tempat ini. Para serdadu yang masih hidup harus tidur di samping mayat-mayat tersebut. Bila hujan, parit-parit akan dibanjiri lumpur yang cukup banyak.

Kengerian Perang Parit

Dalam parit, kehidupan para serdadu akan terasa sangat mengerikan. Selama Perang Dunia I, mayat para serdadu hanya dikubur dalam lubang yang cukup dangkal pada lantai ataupun dinding parit. Kondisi ini memberikan bau yang sangat menyengat, bercampur dengan bau kakus darurat dan bau dari serdadu yang jarang mandi. Persediaan makanan pun terbatas dengan tubuh tentara yang dipenuhi kutu serta rentan terhadap infeksi yang serius.

Kengerian ini harus membuat banyak serdadu tewas sebelum mereka sempat menembakkan peluru ke lawan. Suasana parit juga sangat menegangkan dengan serdadu yang mendapatkan serang arteleri dari musuh secara bertubi-tubi, mereka juga menjadi sasaran peluru sniper seandainya mereka berani menyembulkan kepalanya di atas parit.

Kondisi ini memberikan dampak psikologis pada para serdadu yang ditempatkan di parit. Tidak hanya berakhir disitu, banyak satuan militer menanggapi masalah psikologis ini dengan regu tembak. Bagi serdadu yang pengecut dan melarikan diri pada saat perang akan dieksekusi sendiri secara langsung.

Efektifitas Perang Parit

Perang parit sangat tidak efektif ketika dimunculkannya tank yang dapat melintasi parit selebar 2 meter. Dengan penambahan Flamethrower, seisi parit hanya dalam sebentar saja mampu dibersihkan. Perang ini sangat menyedihkan dibandingkan dengan semua perang yang terjadi. Serdadu juga harus mengkonsumsi air yang tidak bersih karena buruknya logistik medan perang. Banyak serdadu yang cacat akibat serangan dari mortir. Serangan gas klorin pun telah membuat para serdadu buta seperti yang pernah diderita Adolf Hitler, pemimpin fasis Jerman.

Memasuki era perang dunia kedua, parit masih tetap digunakan sebagai salah satu strategi untuk bertahan. Memang tetap tidak efektif jika diterapkan untuk waktu lama dan strategi inti, tapi perang parit tetap menjadi bagian dalam perang baik perang kuno atau perang modern sekalipun.