Asal Mula Digunakannya Rupiah

1172

Menurut Adi Pratomo alumnus Teknik Kimia UGM, sekaligus peneliti sejarah uang Indonesia, kata Rupiah berasal dari bahasa Mongolia. Rupia dalam bahasa Mongolia artinya perak. Pada saat itu, Mongolia di bawah Genghis Khan, dilanjutkan Timur Leng, dan Kubilai Khan melakukan serangkaian invasi sampai ke negara-negara selatan. Di antaranya yaitu India, Afganistan dan Pakistan serta negara utara, Rusia dan beberapa negara Eropa timur lainnya.

Nama Rupia kemudian menyebar. Sebab, negara-negara bekas jajahan Mongolia itu melakukan perdagangan ke berbagai belahan dunia termasuk Nusantara. “Makanya, saudara rupiah itu sebenarnya adalah Rubel, mata uang Rusia.” katanya. Namun Rupiah sendiri merupakan pelafalan asli Indonesia karena adanya penambahan huruf ‘h’ di akhir kata Rupia, sangat khas sebagai pelafalan orang-orang Jawa. Sehingga dapat diambil kesimpulan kata Rupia mulai hidup sejak abad ke 5 atau 6 Masehi yang artinya adalah Perak.

Hal ini sedikit berbeda dengan banyak anggapan bahwa Rupiah adalah salah satu unit turunan dari mata uang India. Rupee India sebenarnya dikatakan sebagai turunan dari kata rupia itu sendiri. Dengan begitu, Rupiah Indonesia memiliki tingkatan yang sama bukan sebagai unit turunan dari mata uang India tersebut.

Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia belum menggunakan mata uang Rupiah namun menggunakan mata uang resmi yang dikenal sebagai ORI (Oeang Repoeblik Indonesia). ORI memiliki jangka waktu peredaran di Indonesia selama 4 tahun, ORI sudah mulai digunakan semenjak 1945-1949.

Namun penggunaan ORI secara sah baru dimulai semenjak diresmikannya mata uang ini oleh Pemerintah sebagai mata uang Indonesia pada 30 Oktober 1946. ORI pada masa awal tersebut dicetak oleh Percetakan Canisius dengan bentuk dan desain yang sangat sederhana dan menggunakan pengaman serat halus. Bahkan dapat dikatakan ORI pada masa tersebut merupakan mata uang yang sangat sederhana, seadanya dan cenderung berkualitas kurang.

Pada awal masa kemerdekaan, ORI beredar luas di masyarakat meskipun uang ini hanya dicetak di Yogyakarta saja. ORI sedikitnya sudah dicetak lima kali dalam jangka waktu empat tahun antara lain, cetakan I pada 17 Oktober 1945, seri II pada 1 januari 1947, seri III dikeluarkan pada 26 Juli 1947, seri IV pada 17 Agustus 1949 dan Versi Proof tahun 1949. Pada masa itu, ORI merupakan mata uang yang memiliki nilai sangat murah jika dibandingkan dengan uang-uang yang dikeluarkan oleh de Javasche Bank. Padahal uang ORI adalah uang langka yang semestinya bernilai tinggi.

Ada banyak keraguan sebenarnya mengenai bagaimana tepatnya mata uang ini mulai ada dan dipakai sebagai mata uang resmi. Pada masa setelah diresmikannya Rupiah, masih ada satu bentuk mata uang yang sempat dipakai di Indonesia. Mata uang ini dikenal sebagai mata uang RIS. Mata uang ini masuk dalam sejarah perkembangan mata uang Indonesia sebagai pengganti sementara Rupiah.

Setelah masa RIS berakhir, mata uang Indonesia kembali menjadi Rupiah. Akan tetapi tidak ada sumber pasti yang menyebutkan waktu transisi secara tepat dari mata uang RIS ke mata uang Rupiah ini. Setelah masa RIS tersebut, Rupiah mulai dipakai secara umum dan mulai banyak mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Sebagai mata uang resmi Indonesia, Rupiah kemudian dikeluarkan dan dikontrol oleh Bank Indonesia.

Terlebih lagi, semenjak Bank Indonesia secara resmi dijadikan Bank Central dan diberi kewenangan penuh untuk mengatur perbankan negara pada 1 Juli 1953. Rupiah kemudian diberi kode atau simbol yang digunakan pada semua pecahan uang kertas dan uang logam berupa Rp dan diakui oleh semua pihak. Rupiah sendiri tidak secara langsung dapat tersebar secara merata di bumi Indonesia.

Persebaran mata uang ini tidak begitu merata secara cepat. Misalnya saja, daerah kepulauan Riau dan Papua baru menggunakan mata uang Rupiah pada tahun 1964 dan 1971. Semenjak dipakainya Rupiah sebagai mata uang resmi, Rupiah berulang kali mengalami pergolakan. Devaluasi dan Pemangkasan merupakan hal yang selalu menghiasi perkembangan Rupiah. Devaluasi terjadi pada beberapa periode misalnya saja pada 7 Maret 1946, 20 September 1949, Februari 1952, September 1959, akhir Januari 1963 dan tahun 1964.

Pemangkasan nilai Rupiah juga terjadi pada 25 Agustus 1959 dan 29 Maret 1983. Perubahan-perubahan tampilan, nilai mata uang, bentuk dan warna pun mewarnai perkembangan mata uang resmi Indonesia ini. Mulai dari ORI yang bentuk, gambar, cetakan, dan kertasnya memiliki kualitas yang buruk hingga kini uang-uang kertas telah memiliki bentuk dan tampilan yang mewah serta rapi.