Tingkat Kematian Saat Melahirkan di AS Meningkat, Ternyata Ini Alasannya

307

Di Amerika Serikat, jumlah wanita yang meninggal dunia karena mengalami komplikasi pada saat hamil dan melahirkan meningkat dua kali lipat sejak 25 tahun terakhir ini. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat dikedepannya.

Hamil dan melahirkan” setelah menikah adalah 2 hal yang paling dinantikan oleh setiap pasangan di dunia, khususnya oleh para calon ibu. Penyakit kronis, terkait rasisme dan ketidaksetaraan sosial merupakan contoh dari beberapa hal yang menyebabkan lebih banyak komplikasi pada wanita kulit berwarna.

Hal ini lah yang turut dirasakan oleh seorang wanita sekaligus seorang ibu berkebangsaan Amerika yang bernama Timoria McQueen Saba. Bulan November ini adalah kali keduanya dia terbaring mati rasa di ranjang sebuah rumah sakit di Bergen Utara, New Jersey, dengan darah mengalir ke bawah kakinya dan rasa ketakutan yang terus merayap ke dalam hatinya.

Pada saat itu, Timoria McQueen Saba berpikir bahwa di dunia ini, dia bukanlah satu-satunya wanita yang mengalami hal seperti ini saat akan melahirkan. Setidaknya begitulah cara ia menenangkan hatinya dari rasa ketakutan saat bersalin.

Pada tahun 2010 yang lalu, setelah melahirkan anak perempuan tertuanya, yang bernama Gigi secara normal, pada suatu sore di bulan April, pendarahan pasca persalinan atau pendarahan yang berlebihan, yang menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia hampir membunuhnya.

Kemudian, sekitar setahun kemudian, dia mengalami pendarahan di kamar mandi sebuah toko yogurt. Ternyata darah yang bercucuran itu terjadi karena dia tengah mengalami keguguran, yang membuat dia akhirnya tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dia sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu dia sedang hamil.

Seorang mantan make up artis dari novelis Candace Bushnell dan Kyra Davis, yang telah memutuskan untuk menjadi advokat kesehatan ibu, berbicara atas nama 830 wanita yang meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan setiap harinya di seluruh dunia. Dalam setahun ada sekitar 303.000 orang wanita yang nyawanya harus terenggut akibat komplikasi tersebut.

Setiap tahun di Amerika Serikat, ada sekitar 700 sampai 1.200 wanita yang meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan dan diketahui bahwa wanita kulit hitam seperti Saba, tiga sampai empat kali lebih mungkin meninggal karena kehamilan atau komplikasi persalinan daripada wanita kulit putih.

Mengetahui data tersebut, Saba mengatakan bahwa dirinya merasa sangat terkejut. Dia merasa terkejut sekaligus juga bersyukur. Terkadang dia juga bertanya-tanya, mengapa dia bisa berbeda dari yang lainnya? Mengapa dia tidak meninggal saat mengalami beberapa kali pendarahan?

Dia sangat bersyukur untuk hal itu dan merasa tergugah untuk menceritakan kisahnya ke seluruh wanita yang ada di dunia, sekaligus untuk mewakili ras nya yang katanya sangat rentan mengalami kematian saat sedang hamil dan melahirkan.

Jumlah Kematian Saat Persalinan Terbesar

Jika dilihat dari data yang berhasil dikumpulkan hingga saat ini, diketahui bahwasannya wanita di Amerika Serikat ternyata memiliki kemungkinan meninggal paling besar saat melahirkan atau karena komplikasi kehamilan, dibandingkan dengan wanita di negara-negara maju lainnya.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, setengah dari kematian tersebut bisa dicegah. Sistem surveilans kematian ibu hamil CDC yang diimplementasikan pada tahun 1986 yang lalu bertujuan untuk melacak kematian ibu.

Sejak saat itu, jumlah kematian terkait kehamilan yang dilaporkan secara nasional meningkat dari 7,2 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1987 menjadi 17,8 per 100.000 pada tahun 2009 dan 2011.

Mengapa kelahiran di Amerika Serikat lebih berbahaya?

Mengapa jumlah kematian saat bersalin bisa terus meningkat di Amerika? Tentu saja ada faktor yang menyebabkan hal tersebut. Ada yang berpendapat bahwa tingkat obesitas yang lebih tinggi, hamil pada usia yang lebih tua dan perubahan sosial lainnya serta kecenderungan kesehatan masyarakat, dapat mendorong peningkatan kematian saat melahirkan.

Tapi meskipun demikian, tetap saja masih rumit untuk bisa menjawab pertanyaan mengapa bisa terjadi kenaikan kematian dan mengapa wanita kulit hitam lebih terpengaruh daripada wanita dari ras lainnya.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Michael Lindsay, yang merupakan seorang professor di Emory University School of Medicine dan sekaligus seorang kepala layanan ginekologi dan kebidanan di Grady Memorial Hospital di Atlanta.

Menurut Lindsay, sebenarnya perbedaan rasial dalam kematian ibu ini telah berlangsung lama selama beberapa dekade. Jadi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru lagi untuk saat ini. Hal tersebut adalah sesuatu yang telah diketahui oleh banyak orang selama beberapa tahun belakang ini.

Banyak dokter dan peneliti yang memiliki beragam gagasan tentang faktor-faktor apa saja yang bisa mendorong tingkat kematian pada ras yang berbeda di Amerika Serikat. Beberapa dari keseluruhannya menunjukkan bahwa hal ini ada kaitannya dengan perbedaan kesehatan dan penyakit kronis di antara wanita kulit hitam dan putih.

Misalnya saja, tingkat obesitas dan tekanan darah tinggi (atau hipertensi). Dan dari faktor-faktor tersebut diketahui bahwasannya resiko komplikasi kehamilan cenderung lebih tinggi di kalangan wanita kulit hitam.

Selain itu, faktor penyebab yang lainnya menunjukkan adanya perbedaan status sosial ekonomi, akses terhadap perawatan kesehatan, pendidikan, pertanggungan asuransi, perumahan, tingkat stres dan kesehatan masyarakat di kalangan perempuan kulit hitam dan kulit putih.

Secara historis, perempuan kulit hitam di masyarakat berpenghasilan lebih rendah dan tidak memiliki akses yang sama terhadap perawatan berkualitas. Berbeda dengan mereka yang adalah wanita kulit putih, yang ternyata memiliki penghasilan yang lebih tinggi.

Faktor yang sama juga menjelaskan bahwa perbedaan yang disebutkan di atas tadi tidak hanya berpengaruh pada angka kematian ibu saja, tapi juga pada beberapa masalah kesehatan, seperti: obesitas, hipertensi, penyakit jantung dan masalah kesehatan secara keseluruhan“, kata Dr. Elizabeth Howell, seorang ginekolog kebidanan dan profesor di Icahn School of Medicine di Gunung Sinai.

Ada faktor ekonomi, sosial, lingkungan, biologis, genetik, perilaku dan perawatan kesehatan yang semuanya berkontribusi pada disparitas di negara ini,” kata Howell.

Ini adalah jaringan kompleks dari jenis faktor tadi, dan saya pikir orang orang mulai melihat dan mencoba untuk mengetahui bagaimana sebenarnya faktor-faktor yang berbeda tersebut benar-benar berkontribusi pada disparitas,” katanya, menambahkan bahwa penelitiannya berfokus pada faktor perawatan yang berkualitas.

Di dalam penelitiannya, Howell bersama dengan rekannya menemukan sebuah fakta bahwa wanita kulit hitam di New York City memiliki tingkat kemungkinan yang lebih tinggi untuk melahirkan di rumah sakit yang memiliki tingkat morbiditas dan komplikasi maternal yang berat dibandingkan dengan wanita berkulit putih.

Pernyataan ini ditemukan di dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di American Journal of Obstetrics dan ginekologi tahun lalu. Para peneliti tersebut menemukan bahwa perbandingan persentasi pasien kulit putih dan wanita kulit hitam yang melahirkan di rumah sakit yang aman adalah 63% : 23%, dengan 63% nya adalah pasien kulit putih.

Memecahkan Masalah Kematian

Untuk memeriksa atau membandingkan perbedaan antara kualitas perawatan di rumah sakit dan untuk menilai perbedaan jumlah pasien kulit hitam dan putih yang dirawat di rumah sakit tersebut, para peneliti mencoba untuk menganalisis data dari rumah sakit dan akte kelahiran yang ada di New York City antara tahun 2011 dan 2013, yaitu sekitar 353.773 kelahiran.

Jika kita bisa mempersempit variasi hasil dan memperbaiki kualitas perawatan ibu hamil, ada kemungkinan besar kalau kita bisa mengurangi masalah disparitas ini,” kata Howell.

Ada upaya yang bisa dilakukan untuk menetapkan standar untuk masalah ini, yang disebut dengan kumpulan keselamatan pasien, di semua rumah sakit.

Apakah mereka melayani lebih banyak pasien kulit putih atau kulit hitam, dengan tujuan untuk menilai dan menangani komplikasi persalinan dengan cara yang tepat, seperti perdarahan pasca melahirkan, kemudian membandingkannya dengan kualitas perawatan yang sama.

Petugas kesehatan, dokter dan para advokat berkumpul beberapa waktu yang lalu di CDC, Atlanta untuk membahas upaya untuk mengukur dan mencegah kematian ibu, serta menganalisis masalah perbedaan rasial yang sedang berlangsung.

Pertemuan publik tersebut mencakup diskusi tentang dampak kematian maternal terhadap keluarga dan masyarakat, serta upaya untuk mencegah kematian tersebut, seperti layanan keselamatan pasien.

Seperti layaknya membuat seragam, “penanganan ini  juga memerlukan perlakuan yang berbeda,” kata Dr. William Callaghan, selaku kepala Cabang Kesehatan Ibu dan Bayi CDC, yang berbicara pada pertemuan kemarin.

Ini bukanlah solusi satu negara saja. Masalah disparitas ini adalah masalah nasional yang harus dipecahkan bersama, dan kita semua mengetahui hal itu,” katanya.

Saba, yang tidak menghadiri pertemuan tersebut, merasa sangat senang mendengar bahwa ada pertemuan itu sudah dilangsungkan.

Namun dia mengatakan bahwa dirinya berharap agar pasien yang sebenarnya seperti dia memiliki kesempatan untuk hadir atau dilibatkan di dalam agenda pertemuan tersebut, sehingga semakin banyak pendapat, yang ditambah dengan pengalaman dari mereka para pasien, diharapkan mereka akan lebih mudah untuk memecahkan masalah tersebut.

Ada banyak orang-orang seperti saya di luar sana, kami telah berbagi cerita selama bertahun-tahun, namun kami belum menceritakan keseluruhan pembahasannya,” kata Saba.

Perlu adanya keseimbangan yang lebih baik antara si pembicara, yang dapat menjelaskan gambaran lengkap dari undang-undang, penelitian dan statistik kepada pasien nyata yang selamat dari trauma saat melahirkan,” katanya.

Saba juga menambahkan bahwa dia telah lama menjadi pendukung Tindakan Pencegahan Kematian Maternal pada tahun 2017. RUU bipartisan diperkenalkan di Kongres pada bulan Maret lalu untuk mendukung upaya negara untuk mencegah kematian maternal, menghilangkan perbedaan dalam hasil kesehatan ibu dan mengidentifikasi solusi untuk memperbaiki kualitas perawatan kesehatan untuk ibu.

Kisah Saba, Wanita Yang Hampir Meninggal Karena Pendarahan

Sampai hari ini, Saba masih mengingat dengan jelas trauma yang dialaminya pada saat melahirkan anak perempuan tertuanya. Dia masih ingat saat dirinya melihat bayangannya di layar kosong saat dia dirawat di ranjang rumah sakit saat persalinan.

Di dalam bayangannya itu, dia melihat sebuah aliran darah yang mengalir keluar dari tubuhnya. Tekanan darahnya turun, dan otot-otot tubuhnya terasa lemas.

Pada saat itu, saya belum pernah melahirkan sebelumnya, jadi saya pikir, apa yang terjadi pada saat itu hanyalah bagian dari proses kelahiran. Saya tidak tahu ada pemikiran yang lebih baik lagi dari pemikiran saya pada saat itu,” kata Saba tentang pendarahan yang berlebihan yang dialaminya saat melahirkan.

Saya melihat bayangan di layar dan saya dapat melihat semua orang yang sedang berada di ruangan itu, termasuk para tenaga profesional kesehatan, yang ekspresi wajahnya mendadak telah berubah,” katanya.

Itulah saat dimana dia baru menyadari bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya.

Saat itu diketahui bahwa rahim Saba tidak berkontraksi dengan cukup kuat untuk memampatkan pembuluh darah setelah persalinannya. Kondisi seperti ini disebut dengan sebuah istilah atonia rahim dan inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan.

Banyak wanita yang meninggal karena mengalami pendarahan. Jadi bisa dibilang kalau alasan pendaran inilah yang menjadi penyebab kematian para ibu atau morbiditas maternal yang sangat umum,” kata Dr. Mark Brescia, OB / GYN Saba di New Jersey, yang telah berlatih selama 27 tahun.

Saat Saba mengalami pendarahan, Brescia mengatakan bahwa dia dan timnya segera bergegas memberikannya obat. Dn ternyata pbat tersebut tidak membantu. Dia kemudian memijat rahimnya. Dan lagi-lagi usaha yang dilakukannya juga tidak membantu.

Pendarahan tersebut tidak menanggapi modalitas perawatan normal yang kami gunakan,” kata Brescia. Jadi Saba harus menjalani prosedur hemat rahim, di mana katanya pembuluh darah yang berada di dekat rahimnya diblokir atau ditutup, tanpa harus membahayakan rahim.

Saba mengatakan bahwa saat itu ahli bedah yang membantu proses persalinannya sempat mengatakan kepadanya bahwa dia mungkin tidak akan bisa bertahan.

Hanya ada kemungkinan yang sangat kecil kalau dia bisa selamat setelah melakukan proses persalinan tersebut. Mendengar ucapan dokter, dia pun merasa sangat sedih dan dia sangat berharap kalau dia diberi sedikit waktu untuk menulis surat kepada putrinya.

Yang bisa saya pikirkan saat itu hanyalah, apa yang bisa saya tinggalkan untuk anak saya, jika nantinya memang saya harus meninggal?” Kata Saba. “Saya ingin dia tahu bahwa dia seharusnya tidak perlu merasa bersalah atas apa yang terjadi, dan bahwa ini bukanlah salahnya.

Perasaan saat tubuhnya harus kehilangan nyawa

Setelah mengalami perdarahan pasca persalinan, kata Saba, dia kemudian didiagnosis menderita gangguan stres pasca trauma. Dia selalu terjaga di malam hari dengan bayangan-bayangan darah yang terus bergejolak di dalam pikirannya.

Dia berusaha untuk mengabaikan hal tersebut, tapi tetap tidak bisa menghentikannya. Dia tahu persis bagaimana perasaan “tubuh yang hampir kehilangan nyawa” dan dia tidak bisa berhenti memikirkan hal itu.

Saya akan terjaga sepanjang malam untuk mencari informasi apa saja mengenai trauma, PTSD, pendarahan dan saya tidak dapat menemukan apapun tujuh tahun yang lalu, yang terasa seperti ada sesuatu yang bisa saya kaitkan,” kata Saba.

Karena tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, saya pun mencoba untuk pergi ke chat room PTSD, dimana para veteran militer ada di dalam percakapan tersebut. Di sana saya akan mencoba untuk menceritakan kisah saya dan mereka akan membawa saya masuk ke dalam seperti saya adalah salah satu dari mereka,” katanya. “Dan hasilnya tidak mengecewakan. Saya menemukan hiburan dan kenyamanan di chat room tersebut.

Dan akhirnya, setelah mengalami keguguran di toko yoghurt itu, Saba mulai bertemu dengan seorang terapis. Saba akhirnya menemui pekerja sosial berlisensi klinis yang mengkhususkan diri pada kesehatan mental postpartum dan PTSD tersebut. Gejala PTSD-nya pun mulai diobati dengan melakukan kombinasi terapi dan yoga restoratif.

Ketika Saba kembali merefleksikan semua yang pernag dialami dan telah berhasil diatasinya, dia mengakui bahwa dia masih sering memikirkan kembali pertanyaan ‘mengapa saat itu dia tidak mati’.

 “Jika dilihat dari statistiknya, saya memiliki perawatan prenatal yang sangat baik, saya tidak lagi merasakan kondisi seperti yang sudah ada sebelumnya,” kata Saba. Dia juga menambahkan bahwa dia memiliki asuransi yang “hebat”.

(NB : Prenatal adalah masa sebelum lahir atau periode awal perkembangan janin, yang dimulai sejak awal pembuahan sampai waktu persalinan. Prenatal merupakan periode yang sangat rentan terjadinya gangguan pada janin, sehingga diperlukan perhatian dan asupan nutrisi yang benar untuk mengoptimalkan perkembangan fisik dan psikologisnya.)

“Setelah menyadari bahwa ini bukanlah sebuah norma, saya memutuskan untuk mengadvokasi perawatan kesehatan ibu yang lebih baik untuk semua wanita,” katanya. “Wanita berpenghasilan rendah, wanita kulit berwarna, wanita imigran lebih cenderung tidak diasuransikan, jadi tidak memiliki akses terhadap layanan keluarga berencana dan segala macam hal yang dapat meningkatkan resiko.

Meskipun sebenarnya masih banyak faktor lain di luar kendali wanita, namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan ibu-ibu untuk meningkatkan kesempatan mereka untuk menjalani kehamilan dan persalinan yang sehat”, kata Lindsay dari Emory University.

Misalnya saja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang telah mengeluarkan serangkaian rekomendasi baru tahun lalu untuk memperbaiki kualitas perawatan prenatal di seluruh dunia.

Rekomendasi tersebut meliputi makan dan olahraga yang sehat, mengonsumsi suplemen zat besi dan folat setiap hari, serta menjalankan anjuran dokter dan melakukan ultrasound selama masa kehamilan.

Sebuah studi yang diterbitkan di dalam jurnal medis JAMA beberapa waktu yang lalu menemukan bahwa memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah ataupun lebih tinggi dari biasanya sebelum kehamilan, sering dikaitkan dengan sedikit peningkatan morbiditas atau mortalitas ibu di kalangan wanita yang berada di negara bagian Washington.

CDC’s Callaghan mengatakan bahwa merencanakan kehamilan dan mengunjungi dokter sebelum adanya tes kehamilan positif bisa membuat perbedaan.

“Periksakan semuanya di awal,” katanya. Cari tahu beberapa hal seperti “Apa riwayat keluarga anda? Apa riwayat medis masa lalu anda? Berapa berat badan anda sekarang? Mulai lah untuk menangani hal-hal seperti itu sebelum masa kehamilan.

Jika anda seorang perokok, maka segeralah berhenti. Kalau anda menderita diabetes, maka kendalikan kadar gula darah anda. Jika anda mengalami komplikasi selama kehamilan, seperti tekanan darah tinggi atau perdarahan, segeralah kunjungi dokter. Menindaklanjuti masalah ini dengan dokter pada masa postpartum sangatlah penting. Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Lindsay.

Ketika kami kembali secara retrospektif dan saat kami meninjau pasien yang telah meninggal, kami menemukan bahwa terkadang ada kerusakan yang terjadi di beberapa daerah tersebut,” kata Lindsay.

Setiap wanita pasti bermimpi untuk hamil dan bisa melahirkan dengan baik. Yah, tentunya setelah menikah. Kedua hal tersebutlah yang akan membuat seorang wanita merasakan bagaimana perasaan menjadi seorang ibu.

Tapi hamil dan melahirkan itu bukanlah hal yang mudah. Anda pasti pernahkan mendengar pernyataan yang mengatakan bahwa “saat melahirkan itu antara hidup dan mati”?

Itu bukanlah sekedar pernyataan guys. Itu adalah sebuah fakta. Fakta yang harus ditanggung oleh ibu-ibu yang ada di seluruh dunia. Sekarang anda sudah percaya kan gimana kerasnya usaha seorang ibu untuk mempertahankan anda agar bisa tetap hidup? Dari kisah wanita yang bernama Timoria Saba ini, semoga mata hati anda bisa terbuka melihat perjuangan ibu anda.

Dan untuk anda para ibu-ibu yang ada di dunia, anda kan sudah tahu bahwa nyawa anda dipertaruhkan saat sedang hamil dan melahirkan.

Untuk itu, mulai sekarang coba lah untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui seperti apa kondisi anda, sebelum atau saat sedang merencanakan kehamilan sampai pada proses persalinan. Apakah kondisi anda dalam keadaan yang aman atau tidak. Mereka akan membantu anda untuk menemukan solusinya.