Kisah Tragedi Sang Pocong

583

Salam Panic Mania! Setelah mengetik dan mengetik berbagai artikel yang berbeda tajuk, Mimin mendapatkan request nih dari beberapa pembaca! Yang diminta simpel sih, banyak yang minta tentang artikel lucu. Wih, permitaan gampang, nyari yang garing lumayan susah la cuy. Haha

Akan tetapi, yang namanya permintaan pembaca setia, mimin pastinya akan selalu berusaha dong memberikan semampunya buat kalian semua. Karena semalam baru malam jumat, gimana kalau bahas tentang hantu saja? Hii, uda ga seram dong! Kan dah tau temanya lucu! Yuk, kita langsung Ke TKP saja! 😀

Gerbang kuburan dibuka tepat jam 12 malam! Seketika kumpulan para setan pun bermunculan ria untuk mencari hiburan. Di salah satu sudut kuburan tepatnya di bawah pohon melinjo, gerombolan pocong sedang bergabung ria dengan geng mereka. Mereka sih Menamakan geng mereka geng pocong (wah, uda macam begal saja ya!). Geng ini lagi melakukan persiapan untuk pesta miras cui!

Teman Pocong: “Bro, lu ga jalan sama cewekmu? si kunti.”

Pocong: “Gak bro, lagi bokek dikit. Maklum bulan tua nih! Dia sih cuman ngajak ketemuan di jembatan ujung jalan Cinta Setan.”

Teman Pocong: “Terus kok lu masi disini saja? Gak tau jalan ya? gagagaga”

Pocong: (masang muka sesak boker) “ya, itu masalahnya bro. Gue minta lu antarin gue karena perasaan gue lagi gak enak nih! Garing (Galau Ringan).”

Teman Pocong: “Ngaca ama muka bro! Masa muka seram seperti gitu minta dianterin untuk ketemuan saja. Ogah! Males pake kali la gue lewat di depan bioskop itu. Manusia sekarang taunya melecehkan kita saja lewat film. Masa kemarin gue ada baca tulisan POCONG NGESOT di papan film Bioskop! Lebih parahnya lagi, pernah kebaca gue POCONG MANDI GOYANG PINGGUL. Kan ada-ada saja tuh manusia sekarang! Emang kita pernah mandi ya bro? Seenaknya saja mereka fitnah kita! Sakit hati gue tau!

Pocong: “Selow Bro. Gue yang pernah liat tulisan POCONG VS KUNTILANAK aja gak marah. Padahal jelas-jelas yang sebenarnya adalah Pocong lope Kuntilanak. Biarin aja deh mereka begitu, toh dulu kita pas hidup juga sering memfitnah. Terima nasib saja bro. Yuk, anterin gue. Uda ga sabar jumpa kekasih tercinta nih!”

Teman Pocong: “Gak mau akh bro! Gue lagi pengen mabok bir cap kemenyan nih! Itu si anggota baru yang bawa. Ough ya, Namanya Batin (Baru Mati Kemarin). Katanya sih barang mahal import bro! Nyesal deh kalo ga ikut merasakannya bro. Gue duluan ya kalo gitu. (nyengir sambil meninggalkan sahabatnya resah dalam garing alias galau ringan).

Dengan perasaan galau campur terkhianati, si pocong pun otw ke tempat kekasih hatinya yang telah duduk manis di atas jembatan. Pocong muncul setelah setengah jam lewat dari waktu yang dijanjikan (Janjinya sih jam 12 lewat 45 menit 37,5 detik).

Pocong: “Hai sayangku kunti, maaf ya telambat. Kaki lagi sakit soalnya, payah lompat. Terpaksa deh naik gojek om Genderuwo kesini. Itupun masih singgah ngisi bensin tadi. (alibi mode on).

Kuntilanak: “Hmm..”

Pocong: Dalam hati berpikir (Ya Tuhan, kata hmm ini kan termasuk salah satu kata mengerikan di kamus cewek). “Aku kan da minta maaf yank. Kenapa masih dingin begitu?” (Pasang muka bersalah).

Kuntilanak: “Baru keluar dari kulkas!!!”

Pocong: “Maksud aku, kenapa mukanya pucat sayang?”

Kuntilanak: “Ya iyalah! Aku kan setan, bego kok dipiara!” (makin badmood).

Pocong: “Ough iya, benar juga. Tapi maksudku bukan itu. Wajahmu kenapa murung? Apa yang lagi kamu pikirkan sayang?”

Kuntilanak: “Sepertinya, kita sudahi saja hubungan kita ini.”

Pocong: “Ough.”

Kuntilanak: “Kamu kok ga sedih?” (kebingungan).

Pocong: “Ya, gak apa-apa. Besok kan kita masih bisa bareng lagi. Cuman untuk malam ini saja kan?”

Kuntilanak: “Maksud aku, kita putus!!” (melotot tajam).

Pocong: “APA??!!!! Tapi kan aku baru telat setengah jam yank! Kemarin aku telat 1 jam 13 detik saja, kamu bisa maklumiya.

Kuntilanak: “Gak ada tapi-tapian. Ngerti ga lu bahasa setan?”

Pocong: “Iya, aku ngerti. Tapi aku cuman butuh satu…..” (mode pasrah).

Kuntilanak: “Emank susah ngomong ama otak profesor!!”

Pocong: “Hah?! Pacar baru kamu Profesor?” (seakan tidak percaya)

Kuntilanak: “Ya, Profesor Idiot!” (kesal meradang).

Pocong: “Yank, plisss..Beri aku satu kesempatan. Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik buatmu.” (Dengan susah payah mencoba berlutut. Namun apa daya terjungkal karena sempitnya kain kafan yang melilitnya).

Kuntilanak: “Terbaik dari Hongkong? Untuk memeluk saja kamu gak pernah! Buat membelai saja kamu juga gak mau! Pokoknya kamu asli gak romantis. Satu lagi, ngak usah panggil aku dan kamu lagi, cukup gue dan elo! TITIK!”

Pocong “Sayang, bukankah dulu kamu bilang mau menerima aku apa adanya? Aku emang nggak bisa memelukmu. Selain tanganku terbungkus, aku juga masih punya iman. Kita bukan muhrim yank..”

(Di tengah kekacauan, tuyul tiba-tiba muncul menghampiri)

Tuyul: “Hai beb! (memotong ratapan pocong). (Dengan membusungkan dada berukuran papan catur, tuyul memasang wajah percaya diri tinggi)

Kuntilanak: “Maaf, gue lebih memilih dia” (sambil nunjuk ke arah tuyul).

Tuyul: “Ayo kita jalan-jalan ke mall. Kamu bebas milih apa saja yang kamu mau, biar aku yang bayar,” (melompat menggapai tangan kunti).

Kuntilanak: (Tersipu malu, wajah pucatnya merona). “hihihiih, ayuk…”

Pocong: “Dasar setan matre!”

Tuyul dan Kuntilanak: “Loe juga setan kale!”

Mereka berdua berlalu, meninggalkan pocong yang kini benar-benar ngesot dalam ratapan.