Wow, Indonesia Ternyata Memiliki Perpustakaan Keliling Yang Unik

242

Dengan pertumbuhan teknologi yang kian pesat dan meningkatnya kehausan atas informasi yang diperlukan di era globalisasi ini, masyarakat baik perkotaan ataupun pedesaan selalu membutuhkan pengetahuan yang banyak untuk membekali aktivitas dan kehidupan kesehariannya. Biasanya orang perkotaan tidak perlu susah payah untuk mencari referensi lagi dikarenakan dapat dilakukan dimana saja dengan menggunakan smartphone. Tapi, bagaimana jika itu untuk bagian pedesaan? Tentunya masyarakat desa lebih lamban memperolehnya dikarenakan “keterbatasan” yang mereka punya.

“Kalau mau panen tahunan, tanamlah pohon-pohonan
Kalau mau panen tiap bulan, tanamlah biji-bijian
Kalau mau panen tiap hari, maka MEMBACALAH”

Hak tersebutlah yang kemudian membuat beberapa orang berinisiatif untuk menjalankan pekerjaan perpustakaan keliling guna memberikan pengetahuan yang disediakan dari buku-buku yang dibawa. Mereka ini layak disebut sebagai pahlawan karena mereka jugalah yang ikut membantu generasi muda dan orang yang minim pengetahuan untuk berkembang menjadi Sumber Daya Manusia yang lebih baik kedepannya. Dibawah ini ada beberapa perpustakaan keliling di Indonesia yang disajikan secara unik oleh orang-orang yang mempunyai niat untuk membantu sesamanya.

Kuda Pustaka Gunung Slamet

Ridwan Sururi merupakan orang memiliki yang hati yang mulia. Setiap hari Selasa sampai Kamis, dia berjalan menuruni lereng Gunung Slamet dengan bersama kuda kesayangannya yang diberi nama Germanis. Kuda tersebut merupakan pemberian orang berkewarganegaraan Jerman. Bersama kuda inilah, Ridwan mengemban tugasnya menjadi perpustakaan keliling.

Setiap kunjungan yang dilakukan, Ridwan selalu memilih buku yang akan dibawa untuk tujuan dari Kuda Pustaka. Kuda ini membawa sekitar 100 lebih buku setiap kali berkeliling. Jika kelihatan terlalu berat, Ridwan akan memindahkan sebagiannya ke tas punggung yang akan dibawanya. Sampai saat ini, Kuda pustaka yang telah berjalan dari tahun 2015 sampai sekarang telah menerima berbagai penghargaan atas antusias Ridwan dalam menjalankan kebaikannya. Ridwan juga tidak pernah mengutip sepeserpun uang dari buku yang dipinjam warga.

Angkot Pustaka Bandung

Sepasang suami istri yang tinggal di Bandung juga mempunyai jiwa yang berkobar untuk meningkatkan minat baca yang bagi masyarakat. Pian dan Elis adalah pasangan suami itri yang berprofesi sebagai sopir angkot dan guru honorer. Suatu saat, sang istri yang awalnya juga telah menjalankan tugas sebagai pustaka keliling menggunakan motor, memberikan saran kepada suaminya untuk membawa serta sebagian buku-bukunya dalam angkotnya.

Elis berharap para penumpang dapat menikmati perjalanan mereka sambil membaca. Ide yang dicetus istrinya tersebut pun langsung diwujudkan sang suami dengan membuat rak di belakang angkotnya. Hal ini langsung mendapatkan respon positif dari para penumpangnya. Pian menceritakan kegemaran para penumpang yang dimana pembaca laki-laki menyukai buku kepribadian dan ibu-ibu lebih meminati buku resep zaman sekarang. Biasanya Pian selalu membawa 20 bacaan buku yang selalu dirotasinya setiap hari.

Bemo Listrik Jakarta

Dari Jakarta, Sutrisno Hadi menjadi pahlawan dalam niatnya untuk meningkatkan minat baca anak-anak dan remaja dengan mengubah bemo listriknya menjadi perpustakaan keliling. Dengan julukan Kinong, sopir bemo yang dulunya hobi dalam memodifikasi kendaraan dalam menjalankan tugasnya setiap hari untuk menarik para penumpang, mengubah pekerjaannya menjadi proyek bemo listrik.

Sayangnya bemo listrik ini tidak berjalan lama. Akhirnya tugas mulia ini dibantu oleh seorang dosen UI yang dimana buku-bukunya disumbangkan dari sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Suatu hari, Kinong mendapatkan keluhan dari para pembacanya dikarenakan buku yang dibawanya hanya itu-itu saja. Dan sungguh beruntungnya lagi, Kinong kembali mendapatkan bantuan buku baru dari pihak-pihak yang peduli dengan tugas mulianya ini.

Motor Pustaka Lampung

Sugeng Haryono, seorang pemuda asal Lampung yang menciptakan ide lahirnya motor pustaka. Sebagai lulusan Ilmu Perpustakaan, Sugeng membeli sebuah motor bekas GL Max dan memodifikasinya menjadi motor pustaka. Program ini diprakarsai karena Sugeng merasa prihatin atas kurangnya akses bahan bacaan bagi anak-anak Indonesia di daerah pelosok. Menurutnya, pendidikan dapat menuntaskan semua masalah kehidupan.

Tetap fokus dalam mengemban tugasnya, pemuda ini harus menempuh jarak yang jauh bukan main setiap harinya yakni di atas 10 kilometer demi menyanggupi “kehausan” anak-anak akan buku bacaan. Sugeng mengaku kerjaan tersebut ikhlas dia lakukan tanpa meminta bayaran. Dia yakin selama adanya niat baik, Tuhan akan selalu membantu dalam kebaikannya tersebut.

Sebenarnya ada cara lain lagi yang dapat dilakukan untuk berbuat kebaikan sekalian meningkatkan pengetahuan warga Indonesia. Di balik kebaikan yang mereka lakukan, mereka sadar betul akan kemampuan dan potensi dari anak-anak pedesaan yang bahkan bisa melebihi anak-anak kota. Ingat, harta yang kita miliki mungkin bisa direbut sapapun, tapi pengetahuan tidak akan dapat diambil sapapun dan akan terus menjadi bekal kita kedepannya. Selalu membaca ya guys! 🙂